…semakin ku tenggelam kedalam kisah hidupmu yang kau curahkan padaku…
Vivi mendesah. “Enak yah kamu, mencintai, dicintai lalu mati.”
Bobi melirik. Seulas senyum tergambar di wajahnya.
“Apanya yang enak, kulitku jadi pucet gini!” Bobi menunjuk kulit tubuhnya yang berwarna putih pucat.
“Lah, apa urusannya cinta sama kulit pucet?”
“Lah, tadi yg bilang aku udah mati sapa?”
Pundak Vivi naik, “Lah, kan bener Bob!”
Sedetik kemudian pundaknya turun. Wajahnya berubah.
“Tuh kan, bingung sendiri kan?!” Bobi tertawa kecil. Vivi jadi tengsin.
“Sori Bob…”
“Sori buat apa?”
“Lupain deh.”
“Viiii… Jangan bikin galau deeh!!” Teriak Bobi mendadak. Wajah Vivi berubah aneh. Heran. Akhirnya Bobi tertawa lagi.
“Bob, enak jadi kamu apa jadi aku, mencintai, dicintai, dipukuli trus siap-siap mati?”
Vivi menunduk. Tangan kanannya mengelus-ngelus pergelangan tangan kirinya yang memar. Masih sakit. Tangan pucat Bobi berusaha ‘menyentuh’ tangan Vivi. Tapi tidak bisa.
“Udah, jangan coba-coba. Entar nyesel gak bisa pegang-pegang.” Kata Vivi. Ia tersenyum. Bobi terenyak. Kenyataan itu terlalu jujur.
“Ah kamu Vi, gak bisa romantis dikit!” Bobi langsung manyun dan melipat tangannya.
“Lah, kan aku jujur Bob.”
Bobi langsung berdiri di depan Vivi. Wajahnya mendekat ke wajah Vivi.
“Kamu pernah denger gak Vi, jujur itu hancur! Puas?!”
Vivi langsung tertawa terbahak-bahak. Bobi makin manyun.
***
“Bob, enak gak jadi setan?”
Bobi langsung menoleh dengan cepat. Tatapannya ekstra tajam.
“Maksudnya?! Aku bukan setan! Aku angel! Malaikat!” Bobi mengeja kata ‘malaikat’ dengan penuh penekanan.
Alis Vivi naik sebelah, “Idiiih, sok imut banget kamu?! Abis mati, hidup lagi, bukannya itu namanya setan, yah?!” kata Vivi dengan polos. Bobi meradang.
“Mulutmu tuh, yang setan! Aku perkecualian! Aku diutus jadi malaikat. Bukan jadi dedemit!” kata Bobi dengan berapi-api
“Hallah, buat aku sama aja. Yang penting rasanya, beda gak, jadi setan…eh, salah, jadi malaikat dibanding jadi manusia.”
Mata Bobi melirik keatas, seperti berpikir. “Hm…sama-sama gak enak sih. Aku ngidam es krim itu sejak mati, loh!”
Bobi menunjuk es krim yang dipegang Vivi. Vivi menatap es krimnya lalu memperhatikan wajah Bobi dengan seksama.
“Kamu mau? Nih!” Vivi menyerahkan es krim ditangannya. Bobi melirik tajam lagi.
“Ngejek nih ceritanya?!”
Wajah Vivi berubah bingung. “Maksudmu??”
“Pegang tangan kamu aja, aku gak bisa, gimana caraku makan es krim?! Payah ih!” ujar Bobi seraya memanyunkan bibirnya kembali.
“Ooh, iya yah… Sori deh Bob…”
Vivi menunduk dan menjilat es krimnya kembali. Dalam hati, Vivi ingin tertawa. Tapi sepertinya diam lebih baik daripada membuat Bobi makin manyun.
“Bentar deh Vi, dari kemarin kamu gak nyambung-nyambung kalo ngomong. Pacarmu pernah mukul kepalamu juga, ya?” Tanya Bobi seraya memperhatikan kepala Vivi dari depan ke belakang.
“Hmmm… Kayaknya gak deh, Bob. Paling-paling dia nampar doang.”
“Bentar, kamu hadap ke sana,” Bobi menyuruh Vivi menoleh ke arah berlawanan dengan wajahnya. Vivi menurut saja tanpa pikiran apapun. “Tuh kan, bekasnya aja belum ilang. Kamu lupa pake obat?”
Vivi terkejut. Bobi masih mengingat kebiasaan Vivi setiap habis dipukuli kekasihnya, Devan, memakai obat penghilang bekas luka. Padahal mengingat es krim kesukaan Bobi saja Vivi tak pernah.
“Inget aja, Bob. Biarin deh, sapa tau dengan gini dia jadi sadar.” Jawab Vivi sambil mengelus pipinya sendiri.
“Sadar apa, sadar untuk nambah bekas luka kamu lagi? Vi, kamu tuh cantik. Dibilang bego, aku sih gak tega, tapi kamu punya istilah lain gak selain itu, untuk gambarin betapa kamu masih punya banyak kesempatan hidup yg lebih indah sama orang lain daripada sama Devan yang kerjaannya melas-melas minta dibolehin mukulin kamu tiap hari?!”
Vivi menunduk. “Tapi aku sayang sama dia, Bob…”
Hati Vivi terasa sakit mengingat perlakuan Devan. Tapi tidak lebih sakit daripada kenyataan yang baru saja dijabarkan Bobi.
“Sayang? Kamu gila Vi!” kata-kata Bobi meluncur tegas. Menegaskan kenyataan. Menusuk hati Vivi. Air mata Vivi menetes. Hangat namun begitu jujur. Lebih jujur dari kata-katanya.
***
Memang mereka berbeda. Sudah berbeda. Tidak seperti dulu. Saat Bobi masih ada disampingnya. Sebagai manusia. Bukan setan, demit atau istilah ‘malaikat’ seperti yang selalu diagung-agungkan Bobi sendiri. Vivi hanya sedang berusaha menyadari itu.
…dia yang kau pilih, tak seperti yang kau ingin dan membuatmu terluka…
Lagu itu mengalun indah dibalik tubuh Vivi. Vivi terdiam sejenak. Tangannya yang tadi sibuk mengaduk kopi tiba-tiba berhenti. Matanya melirik sebuah CD player yang memutar lagu itu di balik tubuhnya. Sedetik kemudian Vivi kembali ke posisinya. Dengan wajah sendu. Dan rindu.
“Sayang…”
Suara Devan memanggil Vivi. Manis sekali.
“Iya…” Vivi hanya menjawab sekenanya. Pikirannya sedang melayang entah kemana.
“Sayang, kopinya udah?”
Devan muncul didepannya. Sangat tampan. Terkadang Vivi bersyukur mendapat kekasih setampan Devan. Namun tidak dengan sikapnya.
“Udah.” Vivi menyerahkan kopi buatannya ke Devan. Devan menyesapnya sedikit. Wajahnya seketika berubah.
“Kenapa?” mendadak Vivi gelisah. Ini bukan gelagat baik.
“Kamu pake kopi apa?”
Vivi menunjuk sebuah toples biru di bawah lemari gelas, “Kopi yang itu.”
Tiba-tiba Devan mendekat, menatap Vivi lekat-lekat, tanpa memperhatikan toples yang ditunjuk Vivi.
“Kok kamu nyamain aku sama pembantu sih??” kata Devan sambil mengelus pipi Vivi dengan lembut. Sebelah tangannya yang lain menumpahkan kopi panas itu ke kaki Vivi. Vivi langsung terjatuh dan berteriak kesakitan.
“Enak gak? Kalo gak enak, berarti rasanya sama seperti kopi buatanmu ini…”
Devan pergi setelah membanting cangkir kopi di depan Vivi. Hancur. Seperti hati Vivi. Vivi hanya bisa menangis. Dalam hati, ia bertanya, sampai kapan ia bertahan?
***
“Sampai kapan kamu bertahan, Vi?”
Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan hati Vivi. Bobi mendesah sendiri dari balik jendela. Sedari tadi ia sudah berdiri disana memperhatikan Vivi dan melihat dengan jelas perlakuan Devan terhadap Vivi. Sebenarnya Bobi ingin berlari, menolong Vivi dan memukul Devan. Kalau bisa mencoret muka Devan dengan pecahan cangkir dan menyiram sisa air panas ke wajah Devan saat itu juga. Kalau bisa juga, ia ingin mengubur Devan hidup-hidup dalam makamnya sendiri dan menghabisinya di dalam makam serta membantainya habis-habisan dengan nisan kuburannya sendiri. Sadis. Namun Bobi tidak bisa. Lebih tepatnya tidak tega membiarkan Vivi kembali menangis.
***
Sore ini kelabu. Mendung menutupi sebagian kisah sore dengan warnanya yang kelam. Vivi menatap langit abu-abu dari jendela kamarnya dengan pikiran yang melayang-layang. Ia merindukan Bobi. Ia merindukan kasih sayang Bobi. Ia mulai mengingat semua detil kehidupan Bobi di dalam kehidupannya. Mulai dari pertemuannya dengan Bobi, hingga saat pertama ia bertemu Bobi dengan kehidupannya yang berbeda.
“Hei…”
Suara itu amat sangat dikenal Vivi. Bobi.
“Hei…”
“Ngelamun, neng?” Tanya Bobi, lalu duduk di atas tempat tidur Vivi.
“Gak…” Vivi membalik badan, membelakangi jendela, menutupi jalan sebagian cahaya yang ingin masuk ke dalam kamarnya. “Gak tau, tiba-tiba aku inget kamu.”
Bobi tersipu sejenak. “Hallah, kalo gini, kangeeenn... Kemaren-kemaren kemana, cantik?”
“Ke salon. Meni pedi, buang sial. Hahaha…” Vivi tertawa. Bobi tersenyum.
“Hahaha, mana ade neng, buang sial di salon. Yang ada buang duit. Hahaha, buang sial itu ke laut, sono…” kata Bobi, menunjuk sebuah arah. Entah menunjuk laut atau tidak.
“Oh, iya ya…” kata Vivi sambil garuk-garuk kepala. “Apa aku perlu ke laut beneran yah, buat buang sial?”
Bobi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vivi yang terihat sangat polos. “Percaya aja sama mitos itu! Putusin Devan, itu cara buang sial yang paling tepat, manjur dan teruji!”
Bobi kembali tertawa terbahak-bahak. Vivi langsung menunduk. Tiba-tiba setetes air matanya jatuh.
“Laah, kok jadi nangis?! Aduh, aku salah ngomong ya?” Bobi langsung berdiri mendekati Vivi.
“Gak Bob, kamu bener. Aku yang salah. Kenapa dulu aku mau aja sama dia?” Vivi menghapus air matanya. Sendiri. Bobi hanya bisa melihatnya dengan kelu. “aku beneran bego yah, Bob?”
Pertanyaan itu mengingatkan Bobi akan perkataannya pada Vivi dahulu. Bobi bingung. Ia hanya bisa mengigit bibir, mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengalihkan matanya ke cahaya luar jendela. Diantara gerakan itu, ada anggukan samar yang tak bisa ia tahan. Vivi seperti tahu isyarat itu. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Air matanya jatuh berhamburan di atas bantal.
“Vi…sori…” Bobi duduk disamping Vivi yang menangis. Bobi ingin mengelus punggung Vivi untuk menenangkannya. Namun, tak bisa...
“Bilang Bob, sekarang aku harus ngapain!” teriak Vivi dari balik bantalnya. Air matanya terus mengucur deras. “percuma kamu bilang sori, tapi kenyataannya aku emang bego! Bilang Bob, aku harus ngapain supaya semua ini berakhir! Aku udah capek Bob, udah capek jadi orang bego terus gini!”
Suara Vivi bergetar, bercampur dengan air mata yang mengucur deras dari matanya. Bobi terenyak mendengar teriakan Vivi. baru kali ini Vivi berteriak di hadapannya, apalagi dengan air mata.
“A… Aku gak tau…”
Jawaban Bobi kontan membuat Vivi makin meradang.
“Kamu gak mungkin gak tau! Kamu bilang, kamu utusan Tuhan. Kamu diutus Tuhan untuk aku, kan? Kamu pasti tahu aku harus gimana! Bilang Bob, bilang!” Vivi meraung-raung seperti kesetanan. Hatinya hancur sekarang.
Bobi masih diam. Ia bingung sendiri. Apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan gadis ini. Gadis yang dari dulu hingga sekarang masih ia cintai. Namun tidak pernah bisa ia dapatkan sejak dulu hingga sekarang.
Tiba-tiba Vivi bangun dan menatap Bobi dengan tajam tepat didepan wajah Bobi “atau kamu emang mau ikut bikin aku tambah bego?! Itu yang kamu pingin Bob?! Kamu pingin balas dendam sama aku?”
Bobi terkejut dengan ucapan Vivi. bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjadi pelindung Vivi.
“Gak Vi, kamu salah paham…” kata Bobi dengan perasaan bercampur aduk.
“Salah paham gimana, heh?” Vivi makin mendekatkan wajahnya ke wajah Bobi. Nafasnya yang memburu, berbau air mata dan kesakitan hati yang tak tergambar, terasa menerpa wajah Bobi. Bobi mundur sedikit. Gerakan refleks itu ia lakukan tanpa sadar sebenarnya itu tak berguna karena Bobi tak dapat disentuh.
“Bukan gitu maksud aku, Vi…” kata Bobi, kemudian menundukkan wajahnya. Vivi melemah. Ia menjatuhkan badannya perlahan. Air matanya terus mengalir, menemani penyesalan yang merasap dalam batinnya.
“Salah apa aku, Bob? Apa bener aku yang bunuh kamu Bob?”
Pertanyaan ini sudah lama ditahan Vivi. apakah ia pembunuh Bobi, hingga karmanya, ia harus menikmati penderitaan dari Devan seperti ini. Bobi masih diam dalam bingung, bagaimana menenangkan Vivi dan mencari jawaban pertanyaan Vivi yang dianggapnya sebagai buah simalakama.
“Vi…”
Akhirnya itu yang dapat Bobi keluarkan. Tepat sesaat setelah Vivi menutup mata. Matanya sudah berat untuk membuka karena air mata di kelopaknya. Vivi sudah letih. Entah dibagian mana.
***
…mengapa kau kini inginkan ku lagi…
“Sayang, maafin aku…”
Suara Devan terdengar sangat sendu dibalik sambungan telepon. Vivi membuang muka. Sedari tadi ia menatap foto mereka berdua yang diambil 3 tahun lalu–saat Devan masih semanis buah apel. Saat ini, rasanya, entah apa. Seperti diantara sakit, bimbang dan merindu. Ya, Vivi masih merindukan Devan. Jelas Devan yang dulu. Yang masih rela membuka kemejanya dan menutupi kedua kepala mereka dari guyuran air hujan saat pertama mereka berkencan. Vivi jadi berfikir, terkadang hujan memang membawa berkah. Namun apakah saat itu hujan adalah pertanda, atau gampangnya, bentuk lain dari air matanya? Vivi termangu.
“Sayang…plis…”
Suara itu muncul lagi. Vivi tersadar dari lamunannya. Disaat satu tangannya memegang gagang telepon, satu tangannya yang lain memijat pelipisnya. Vivi kalut.
“Kita ketemu di tempat pertama kita ketemu. Entah kamu ingat apa tidak, aku tunggu jam 3 sore ini.”
Klik.
Vivi menutup teleponnya tanpa menunggu respon. Matanya memandang mendung kelabu diluar rumah dengan nanar. Ia hanya berharap, hujan kali ini adalah berkah untuknya.
***
Taman ini sepi. Mungkin karena hujan yang mulai turun rintik-rintik. Vivi tidak peduli. Sudah lima belas menit ia duduk mematung dikursi taman berwarna putih berkarat dengan tangan memegang sebuah payung kecil yang terbuka diatasnya. Menunggu Devan.
“Maaf, aku telat…”
Nafas Devan memburu. Apa ia berlari? Berlari untuknya? Pertanyaan dari lubuk hati Vivi. Namun urung ia utarakan. Percuma.
“Baru…” Devan melirik jam tangan hitamnya. “Lima belas menit, kan?” katanya kemudian duduk disamping Vivi.
“Ya.” Jawab Vivi, singkat.
Mendadak suasana menyepi. Devan diam. Vivi diam. Mereka diam satu menit. Menit berikutnya, giliran Vivi angkat bicara.
“Van…” katanya, “Apa hubungan kita akan terus seperti ini?” tanyanya. Wajah Devan yang sejak tadi menunduk, tiba-tiba sedikit terangkat dan tersenyum kecil. Entah dari mana asalnya senyum itu, namun tiba-tiba ia bersimpuh di kaki Vivi, lalu memegang tangan Vivi yang dingin karena air hujan. Dan kalut.
“Gak…hubungan kita gak boleh kayak gini terus.” Kata Devan, “Gak mungkin kayak gini terus,Vi…”
Vivi diam saja. Separuh hatinya diam, seperti sudah terbiasa dengan perkataan Devan yang ini namun sebelah hatinya yang lain bergejolak. Ada sebuah firasat.
“Sebenernya, udah lama aku mau ngomong ini sama kamu.” Tiba-tiba tangan Devan merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. “Will you marry me?”
Jantung Vivi runtuh seketika. Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Kesadaran mengajaknya melayang-layang.
“Ba…barusan kamu ngomong apa, Van?” Vivi jadi terbata. Vivi masih terkesiap.
Devan tersenyum. “Maukah kamu jadi istriku?”
***
“Bob…”
Vivi duduk bersimpuh di makam itu. Makam yang sudah luntur. Mungkin karena hujan musim ini begitu bersemangat. Atau mungkin juga karena usianya sudah lama. 3 tahun.
“Maafin aku…”
Mata bulat indah itu memejam. Setetes air mengalir dari selanya. Segera Vivi menghapusnya. Lalu sebuah senyum tergambar diwajahnya. Vivi mengelus nisan itu, lalu menciumnya. Saat tubuhnya berdiri dan berbalik, sosok Bobi berdiri dibelakangnya.
“Tadi gimana hasilnya?”
Mereka duduk di sebuah bangku di sebuah kursi di dekat makam Bobi. Entah mengapa tadi Bobi tidak sanggup melihat Devan dan Vivi bersama di bangku taman. Padahal harusnya ia selalu berada disamping Vivi, meskipun ia bersama Devan.
Vivi langsung mengangkat wajahnya yang penuh tanda tanya. “hasil apa?”
“Konferensi kursi taman. Hehe…” Bobi nyengir sendiri. Ia berusaha tertawa untuk menutupi kegelisahannya.
“Oh…” Vivi menunduk. Sejenak diam menyelimuti waktu. Kemudian, setetes air mata jatuh lagi dari pelupuk mata Vivi. Bobi terkejut.
“Lho, kok malah nangis?”
Segera Bobi mendekat pada Vivi. hampir saja ia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Vivi. Namun segera ia batalkan. Lupa.
“Sori Bob, aku masih bingung.” Jawab Vivi sambil menyeka air matanya.
“Bingung kenapa?” Tanya Bobi
“Bingung, apa yang aku lakukan tadi benar atau gak. Aku takut salah langkah lagi.”
Vivi mendesah. Rasanya ia tercekat. Jantung Bobi ikut berdetak keras. Ia pun kalut.
“Hmm…aku rasa kamu gak akan salah langkah lagi. Kamu udah dewasa, Vi…”
Vivi mengangguk pelan, “Ya, mungkin.”
Mereka terdiam agak lama. Tiba-tiba Bobi ingat pertanyaan awalnya pada Vivi, tentang keputusannya
“Terus, hasilnya apa?” Tanya Bobi. Dalam hatinya, Bobi amat sangat kalut dan takut, kalau-kalau Vivi kembali menyakitinya hari ini.
“Aku… Aku putusin dia.”
Bobi terenyak, “Putusin?!”
“Ya, aku putuskan untuk menolak lamaran dia. Aku gak salah lagi, kan, Bob?” kata Vivi. wajahnya sendu, namun gurat bahagia tersirat di wajahnya yang ayu.
Bobi terdiam. Seperti ada perasaan lega yang bercampur bahagia. Rasanya ia ingin memeluk Vivi, namun ia sadar, ia takkan bisa lagi memeluk gadis cantiknya ini. Akhirnya, kebahagiaannya menggerakkan ujung bibirnya ke atas.
“Oh ya?” kata Bobi, singkat. Kebahagiaan ternyata juga mampu mengunci bibirnya.
Mereka jadi terdiam cukup lama. Terbawa perasaannya masing-masing. Sibuk bercanda dengan hatinya masing-masing.
“Bob…”
Suara Vivi memecah keheningan diantara mereka berdua. Bobi langsung menoleh. Wajah Bobi terlihat masih sangat gembira
“Ya?” jawab Bobi. Bobi terlihat sangat tertarik dengan kata-kata yang akan keluar dari mulut Vivi. Vivi jadi tersipu malu.
“Sampai kapan kamu disini?”
Pertanyaan Vivi membuat Bobi terkejut. Bobi menjadi ingat tugas yang ia emban dari Tuhan. Bobi terdiam dengan pikiran melayang-layang.
“Kok, kaget? Kok, diem?” Tanya Vivi lagi. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Bobi menelan ludah dengan sangat kentara.
“Tadi kamu tanya apa, Vi?”
“Ya ampun, kamu disini sampai kapan, Bobi?” ulang Vivi. wajahnya terlihat geregetan.
“Disini, dimana?”
“Ya disini, Bob, di bumi. Kamu disini selamanya, atau…” ucapan Vivi berhenti pada ketidakinginannya kehilangan Bobi untuk kedua kalinya. Bobi terdiam dan menunduk.
“Gak mungkin, Vi. Aku gak mungkin disini selamanya.”
Jawaban Bobi terasa menghempaskan hati Vivi ke lantai. Vivi terenyak.
“Bukan disini tempatku. Aku hanya bertug…” belum sempat Bobi menyelesaikan ucapannya, tangis Vivi kembali tumpah.
“Kamu mau ninggalin aku lagi, Bob?” Tanya Vivi dengan uraian air mata.
“Maaf Vi, emang itu jalannya.” Jawab Bobi. Kepalanya tetap menunduk. Sangat sulit untuknya mengatakan hal itu pada Vivi. Tugasnya hanya itu, menjaga Vivi hingga benar-benar lepas dari Devan. Tugas yang benar-benar ia minta kepada Tuhan. Dan yang tak Vivi ketahui, bahwa Bobi harus kembali saat Vivi sudah melepaskan Devan. Siap atau tidak.
“Tuhan gak adil, Bob!!”
Vivi berteriak. Memecah diamnya sore yang sangat indah dengan mega menggantung diujung barat. Bobi terkesiap.
“Kamu jangan sekali-kali nyalahin Tuhan, Vi!” Bobi langsung berdiri dengan emosi. “Lihat dirimu dulu, apa selama ini kamu udah bener?”
Vivi makin terisak. Satu sisi ia menyadari kesalahannya. Tapi sisi lainnya, ego memaksanya berkata, ia tak mau sendiri.
“Selama ini Tuhan udah baik sama kamu. Bahkan ia mau mengirimku lagi untuk menjagamu!”
Hati Vivi mencelos, “Lalu kenapa sekarang Tuhan mau ambil kamu lagi?”
“Apa kamu merasa kehilangan?”
Pertanyaan itu terasa menampar hati Vivi. Suara lirih Bobi seakan menusuk relung hatinya yang terdalam. Vivi tertohok saat pertanyaan yang sama muncul di hatinya, benarkah ini cinta, atau hanya sekedar kebutuhan?
“Ya.” Jawab Vivi dengan tercekat.
“Sama Vi. Aku juga kehilangan kamu saat kamu memilih Devan, dulu.” Nafas panjangnya menghela. “Kenapa kamu pilih Devan, Vi, padahal kamu tahu hatimu memilih aku. Apa alasanmu, Vi?”
Seketika lutut Vivi melemas. Rahasia yang ia simpan bertahun-tahun mendadak terbongkar seperti letupan angin panas gunung api. Vivi hanya bisa menunduk pasrah.
“Aku… Aku hanya tahu…, Monik…mencintaimu…lebih dari aku….”
Vivi terbata-bata saat mengutarakan hal itu. Namun dalam hatinya sendiri, ia tidak pernah yakin apakah cintanya tidak lebih dari cinta Monik, sahabatnya dan sahabat Bobi saat SMA itu.
“Kamu tahu, Vi, setelah aku tahu kamu mencintaiku, aku pergi meninggalkan Monik sendirian di taman saat itu juga! Kamu tahu, aku juga tidak peduli dengan air mata monik yang mengucur deras setelah keceplosan menceritakan perasaan hatimu yang sebenarnya padaku! Kamu tahu, bahkan aku juga benar-benar tidak peduli saat Monik berusaha menahanku agar tidak menemuimu padahal ia sangat takut Devan akan membunuhku. Dan kamu harus tahu Vi, penyesalanku yang terdalam bukan karena mengabaikan perasaan Monik, namun karena tidak bisa menemuimu saat itu! Aku mati Vi, aku mati!”
Bobi menghempaskan tubuhnya ke kursi taman. Nafasnya habis, terengah-engah ia menahan emosinya. Mendengar itu, hati Vivi seperti terhempas dari atas gedung tinggi namun tidak ada yang berusaha menyelamatkannya. Hatinya benar-benar hancur seperti tidak berbentuk lagi. Vivi menjadi semakin syok dan hancur saat berhasil merangkai semua kejadian yang merenggut nyawa Bobi pada 3 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan yang terjadi karena Bobi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata yang kemudian selip karena Bobi ingin menyalip sebuah truk hingga akhirnya menabrak truk lain yang berada di depan dan di samping mobilnya. Hati Vivi makin ngilu mengingat tubuh Bobi yang terjepit pintu mobil yang penyok dan tidak dapat diselamatkan karena keterlambatan penanganan. Semua itu terjadi hanya karena Bobi ingin mengejarnya dan menyelamatkannya dari Devan yang ternyata menyakitinya sekarang. Vivi benar-benar hancur sekarang.
“Jangan menangisi semuanya, Vi, sudah terlambat.”
Kata-kata Bobi kembali menusuk hati Vivi yang sudah hancur. Kata ‘terlambat’ terasa menjawab semua permasalahan yang terjadi saat ini. Rasanya Vivi ingin mati saat ini.
“Aku cinta kamu, Bob…”
Akhirnya hanya itu yang mampu Vivi utarakan. Terasa amat sangat terlambat, namun mampu menahan nafas Bobi. Dan seketika….sebuah sayap putih besar keluar dari punggungnya dengan tiba-tiba. Vivi terkejut sekali. Selama ia bersama Bobi, sayap itu tidak pernah keluar bahkan Vivi tak pernah tahu bagaimana sayap itu bisa keluar.
“Vi…aku harus pergi.”
Bobi pindah ke depan Vivi, berjongkok dan menatap Vivi–yang masih menangis–lekat-lekat. Meratapi perpisahan abadi yang harus mereka jalani. Vivi yang belum sempat menyelesaikan keterkejutannya akan kehadiran sayap itu, makin terkejut dengan perkataan Bobi. Perkataan yang sedari awal pasti keluar, namun tak pernah ingin disadari oleh keduanya.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Bobi berdiri. Perlahan tubuhnya mundur, menjauhi Vivi. Spontan Vivi menahan tangannya. Secara mengejutkan, tangan itu tersentuh. Terasa sangat hangat dan dirindukan. Mereka berdua benar-benar terkejut. Mereka berdua benar-benar tahu, hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka sekarang, meskipun mereka amat sangat merindu. Dalam keterkejutannya, Bobi langsung menarik Vivi dan memeluknya erat-erat. Pelukan yang amat mereka rindukan, setelah sekian tahun dan sekian kisah yang mereka alami.
“Maafin aku, Bob…” kata Vivi. Seiring bisikannya yang lirih, perlahan tubuh Bobi menghilang seperti angin. Bau tubuh Bobi menguar di sekeliling tubuh Vivi. Sejuk dan hangat.
***
Tak kan bisa… Tak kan bisa… Aku disisimu sebagai kekasihmu…
Jangan pernah… Jangan pernah… Kau mengharap lebih untuk dapatkanku lagi…
Vivi mendesah. “Enak yah kamu, mencintai, dicintai lalu mati.”
Bobi melirik. Seulas senyum tergambar di wajahnya.
“Apanya yang enak, kulitku jadi pucet gini!” Bobi menunjuk kulit tubuhnya yang berwarna putih pucat.
“Lah, apa urusannya cinta sama kulit pucet?”
“Lah, tadi yg bilang aku udah mati sapa?”
Pundak Vivi naik, “Lah, kan bener Bob!”
Sedetik kemudian pundaknya turun. Wajahnya berubah.
“Tuh kan, bingung sendiri kan?!” Bobi tertawa kecil. Vivi jadi tengsin.
“Sori Bob…”
“Sori buat apa?”
“Lupain deh.”
“Viiii… Jangan bikin galau deeh!!” Teriak Bobi mendadak. Wajah Vivi berubah aneh. Heran. Akhirnya Bobi tertawa lagi.
“Bob, enak jadi kamu apa jadi aku, mencintai, dicintai, dipukuli trus siap-siap mati?”
Vivi menunduk. Tangan kanannya mengelus-ngelus pergelangan tangan kirinya yang memar. Masih sakit. Tangan pucat Bobi berusaha ‘menyentuh’ tangan Vivi. Tapi tidak bisa.
“Udah, jangan coba-coba. Entar nyesel gak bisa pegang-pegang.” Kata Vivi. Ia tersenyum. Bobi terenyak. Kenyataan itu terlalu jujur.
“Ah kamu Vi, gak bisa romantis dikit!” Bobi langsung manyun dan melipat tangannya.
“Lah, kan aku jujur Bob.”
Bobi langsung berdiri di depan Vivi. Wajahnya mendekat ke wajah Vivi.
“Kamu pernah denger gak Vi, jujur itu hancur! Puas?!”
Vivi langsung tertawa terbahak-bahak. Bobi makin manyun.
***
“Bob, enak gak jadi setan?”
Bobi langsung menoleh dengan cepat. Tatapannya ekstra tajam.
“Maksudnya?! Aku bukan setan! Aku angel! Malaikat!” Bobi mengeja kata ‘malaikat’ dengan penuh penekanan.
Alis Vivi naik sebelah, “Idiiih, sok imut banget kamu?! Abis mati, hidup lagi, bukannya itu namanya setan, yah?!” kata Vivi dengan polos. Bobi meradang.
“Mulutmu tuh, yang setan! Aku perkecualian! Aku diutus jadi malaikat. Bukan jadi dedemit!” kata Bobi dengan berapi-api
“Hallah, buat aku sama aja. Yang penting rasanya, beda gak, jadi setan…eh, salah, jadi malaikat dibanding jadi manusia.”
Mata Bobi melirik keatas, seperti berpikir. “Hm…sama-sama gak enak sih. Aku ngidam es krim itu sejak mati, loh!”
Bobi menunjuk es krim yang dipegang Vivi. Vivi menatap es krimnya lalu memperhatikan wajah Bobi dengan seksama.
“Kamu mau? Nih!” Vivi menyerahkan es krim ditangannya. Bobi melirik tajam lagi.
“Ngejek nih ceritanya?!”
Wajah Vivi berubah bingung. “Maksudmu??”
“Pegang tangan kamu aja, aku gak bisa, gimana caraku makan es krim?! Payah ih!” ujar Bobi seraya memanyunkan bibirnya kembali.
“Ooh, iya yah… Sori deh Bob…”
Vivi menunduk dan menjilat es krimnya kembali. Dalam hati, Vivi ingin tertawa. Tapi sepertinya diam lebih baik daripada membuat Bobi makin manyun.
“Bentar deh Vi, dari kemarin kamu gak nyambung-nyambung kalo ngomong. Pacarmu pernah mukul kepalamu juga, ya?” Tanya Bobi seraya memperhatikan kepala Vivi dari depan ke belakang.
“Hmmm… Kayaknya gak deh, Bob. Paling-paling dia nampar doang.”
“Bentar, kamu hadap ke sana,” Bobi menyuruh Vivi menoleh ke arah berlawanan dengan wajahnya. Vivi menurut saja tanpa pikiran apapun. “Tuh kan, bekasnya aja belum ilang. Kamu lupa pake obat?”
Vivi terkejut. Bobi masih mengingat kebiasaan Vivi setiap habis dipukuli kekasihnya, Devan, memakai obat penghilang bekas luka. Padahal mengingat es krim kesukaan Bobi saja Vivi tak pernah.
“Inget aja, Bob. Biarin deh, sapa tau dengan gini dia jadi sadar.” Jawab Vivi sambil mengelus pipinya sendiri.
“Sadar apa, sadar untuk nambah bekas luka kamu lagi? Vi, kamu tuh cantik. Dibilang bego, aku sih gak tega, tapi kamu punya istilah lain gak selain itu, untuk gambarin betapa kamu masih punya banyak kesempatan hidup yg lebih indah sama orang lain daripada sama Devan yang kerjaannya melas-melas minta dibolehin mukulin kamu tiap hari?!”
Vivi menunduk. “Tapi aku sayang sama dia, Bob…”
Hati Vivi terasa sakit mengingat perlakuan Devan. Tapi tidak lebih sakit daripada kenyataan yang baru saja dijabarkan Bobi.
“Sayang? Kamu gila Vi!” kata-kata Bobi meluncur tegas. Menegaskan kenyataan. Menusuk hati Vivi. Air mata Vivi menetes. Hangat namun begitu jujur. Lebih jujur dari kata-katanya.
***
Memang mereka berbeda. Sudah berbeda. Tidak seperti dulu. Saat Bobi masih ada disampingnya. Sebagai manusia. Bukan setan, demit atau istilah ‘malaikat’ seperti yang selalu diagung-agungkan Bobi sendiri. Vivi hanya sedang berusaha menyadari itu.
…dia yang kau pilih, tak seperti yang kau ingin dan membuatmu terluka…
Lagu itu mengalun indah dibalik tubuh Vivi. Vivi terdiam sejenak. Tangannya yang tadi sibuk mengaduk kopi tiba-tiba berhenti. Matanya melirik sebuah CD player yang memutar lagu itu di balik tubuhnya. Sedetik kemudian Vivi kembali ke posisinya. Dengan wajah sendu. Dan rindu.
“Sayang…”
Suara Devan memanggil Vivi. Manis sekali.
“Iya…” Vivi hanya menjawab sekenanya. Pikirannya sedang melayang entah kemana.
“Sayang, kopinya udah?”
Devan muncul didepannya. Sangat tampan. Terkadang Vivi bersyukur mendapat kekasih setampan Devan. Namun tidak dengan sikapnya.
“Udah.” Vivi menyerahkan kopi buatannya ke Devan. Devan menyesapnya sedikit. Wajahnya seketika berubah.
“Kenapa?” mendadak Vivi gelisah. Ini bukan gelagat baik.
“Kamu pake kopi apa?”
Vivi menunjuk sebuah toples biru di bawah lemari gelas, “Kopi yang itu.”
Tiba-tiba Devan mendekat, menatap Vivi lekat-lekat, tanpa memperhatikan toples yang ditunjuk Vivi.
“Kok kamu nyamain aku sama pembantu sih??” kata Devan sambil mengelus pipi Vivi dengan lembut. Sebelah tangannya yang lain menumpahkan kopi panas itu ke kaki Vivi. Vivi langsung terjatuh dan berteriak kesakitan.
“Enak gak? Kalo gak enak, berarti rasanya sama seperti kopi buatanmu ini…”
Devan pergi setelah membanting cangkir kopi di depan Vivi. Hancur. Seperti hati Vivi. Vivi hanya bisa menangis. Dalam hati, ia bertanya, sampai kapan ia bertahan?
***
“Sampai kapan kamu bertahan, Vi?”
Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan hati Vivi. Bobi mendesah sendiri dari balik jendela. Sedari tadi ia sudah berdiri disana memperhatikan Vivi dan melihat dengan jelas perlakuan Devan terhadap Vivi. Sebenarnya Bobi ingin berlari, menolong Vivi dan memukul Devan. Kalau bisa mencoret muka Devan dengan pecahan cangkir dan menyiram sisa air panas ke wajah Devan saat itu juga. Kalau bisa juga, ia ingin mengubur Devan hidup-hidup dalam makamnya sendiri dan menghabisinya di dalam makam serta membantainya habis-habisan dengan nisan kuburannya sendiri. Sadis. Namun Bobi tidak bisa. Lebih tepatnya tidak tega membiarkan Vivi kembali menangis.
***
Sore ini kelabu. Mendung menutupi sebagian kisah sore dengan warnanya yang kelam. Vivi menatap langit abu-abu dari jendela kamarnya dengan pikiran yang melayang-layang. Ia merindukan Bobi. Ia merindukan kasih sayang Bobi. Ia mulai mengingat semua detil kehidupan Bobi di dalam kehidupannya. Mulai dari pertemuannya dengan Bobi, hingga saat pertama ia bertemu Bobi dengan kehidupannya yang berbeda.
“Hei…”
Suara itu amat sangat dikenal Vivi. Bobi.
“Hei…”
“Ngelamun, neng?” Tanya Bobi, lalu duduk di atas tempat tidur Vivi.
“Gak…” Vivi membalik badan, membelakangi jendela, menutupi jalan sebagian cahaya yang ingin masuk ke dalam kamarnya. “Gak tau, tiba-tiba aku inget kamu.”
Bobi tersipu sejenak. “Hallah, kalo gini, kangeeenn... Kemaren-kemaren kemana, cantik?”
“Ke salon. Meni pedi, buang sial. Hahaha…” Vivi tertawa. Bobi tersenyum.
“Hahaha, mana ade neng, buang sial di salon. Yang ada buang duit. Hahaha, buang sial itu ke laut, sono…” kata Bobi, menunjuk sebuah arah. Entah menunjuk laut atau tidak.
“Oh, iya ya…” kata Vivi sambil garuk-garuk kepala. “Apa aku perlu ke laut beneran yah, buat buang sial?”
Bobi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vivi yang terihat sangat polos. “Percaya aja sama mitos itu! Putusin Devan, itu cara buang sial yang paling tepat, manjur dan teruji!”
Bobi kembali tertawa terbahak-bahak. Vivi langsung menunduk. Tiba-tiba setetes air matanya jatuh.
“Laah, kok jadi nangis?! Aduh, aku salah ngomong ya?” Bobi langsung berdiri mendekati Vivi.
“Gak Bob, kamu bener. Aku yang salah. Kenapa dulu aku mau aja sama dia?” Vivi menghapus air matanya. Sendiri. Bobi hanya bisa melihatnya dengan kelu. “aku beneran bego yah, Bob?”
Pertanyaan itu mengingatkan Bobi akan perkataannya pada Vivi dahulu. Bobi bingung. Ia hanya bisa mengigit bibir, mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengalihkan matanya ke cahaya luar jendela. Diantara gerakan itu, ada anggukan samar yang tak bisa ia tahan. Vivi seperti tahu isyarat itu. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Air matanya jatuh berhamburan di atas bantal.
“Vi…sori…” Bobi duduk disamping Vivi yang menangis. Bobi ingin mengelus punggung Vivi untuk menenangkannya. Namun, tak bisa...
“Bilang Bob, sekarang aku harus ngapain!” teriak Vivi dari balik bantalnya. Air matanya terus mengucur deras. “percuma kamu bilang sori, tapi kenyataannya aku emang bego! Bilang Bob, aku harus ngapain supaya semua ini berakhir! Aku udah capek Bob, udah capek jadi orang bego terus gini!”
Suara Vivi bergetar, bercampur dengan air mata yang mengucur deras dari matanya. Bobi terenyak mendengar teriakan Vivi. baru kali ini Vivi berteriak di hadapannya, apalagi dengan air mata.
“A… Aku gak tau…”
Jawaban Bobi kontan membuat Vivi makin meradang.
“Kamu gak mungkin gak tau! Kamu bilang, kamu utusan Tuhan. Kamu diutus Tuhan untuk aku, kan? Kamu pasti tahu aku harus gimana! Bilang Bob, bilang!” Vivi meraung-raung seperti kesetanan. Hatinya hancur sekarang.
Bobi masih diam. Ia bingung sendiri. Apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan gadis ini. Gadis yang dari dulu hingga sekarang masih ia cintai. Namun tidak pernah bisa ia dapatkan sejak dulu hingga sekarang.
Tiba-tiba Vivi bangun dan menatap Bobi dengan tajam tepat didepan wajah Bobi “atau kamu emang mau ikut bikin aku tambah bego?! Itu yang kamu pingin Bob?! Kamu pingin balas dendam sama aku?”
Bobi terkejut dengan ucapan Vivi. bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjadi pelindung Vivi.
“Gak Vi, kamu salah paham…” kata Bobi dengan perasaan bercampur aduk.
“Salah paham gimana, heh?” Vivi makin mendekatkan wajahnya ke wajah Bobi. Nafasnya yang memburu, berbau air mata dan kesakitan hati yang tak tergambar, terasa menerpa wajah Bobi. Bobi mundur sedikit. Gerakan refleks itu ia lakukan tanpa sadar sebenarnya itu tak berguna karena Bobi tak dapat disentuh.
“Bukan gitu maksud aku, Vi…” kata Bobi, kemudian menundukkan wajahnya. Vivi melemah. Ia menjatuhkan badannya perlahan. Air matanya terus mengalir, menemani penyesalan yang merasap dalam batinnya.
“Salah apa aku, Bob? Apa bener aku yang bunuh kamu Bob?”
Pertanyaan ini sudah lama ditahan Vivi. apakah ia pembunuh Bobi, hingga karmanya, ia harus menikmati penderitaan dari Devan seperti ini. Bobi masih diam dalam bingung, bagaimana menenangkan Vivi dan mencari jawaban pertanyaan Vivi yang dianggapnya sebagai buah simalakama.
“Vi…”
Akhirnya itu yang dapat Bobi keluarkan. Tepat sesaat setelah Vivi menutup mata. Matanya sudah berat untuk membuka karena air mata di kelopaknya. Vivi sudah letih. Entah dibagian mana.
***
…mengapa kau kini inginkan ku lagi…
“Sayang, maafin aku…”
Suara Devan terdengar sangat sendu dibalik sambungan telepon. Vivi membuang muka. Sedari tadi ia menatap foto mereka berdua yang diambil 3 tahun lalu–saat Devan masih semanis buah apel. Saat ini, rasanya, entah apa. Seperti diantara sakit, bimbang dan merindu. Ya, Vivi masih merindukan Devan. Jelas Devan yang dulu. Yang masih rela membuka kemejanya dan menutupi kedua kepala mereka dari guyuran air hujan saat pertama mereka berkencan. Vivi jadi berfikir, terkadang hujan memang membawa berkah. Namun apakah saat itu hujan adalah pertanda, atau gampangnya, bentuk lain dari air matanya? Vivi termangu.
“Sayang…plis…”
Suara itu muncul lagi. Vivi tersadar dari lamunannya. Disaat satu tangannya memegang gagang telepon, satu tangannya yang lain memijat pelipisnya. Vivi kalut.
“Kita ketemu di tempat pertama kita ketemu. Entah kamu ingat apa tidak, aku tunggu jam 3 sore ini.”
Klik.
Vivi menutup teleponnya tanpa menunggu respon. Matanya memandang mendung kelabu diluar rumah dengan nanar. Ia hanya berharap, hujan kali ini adalah berkah untuknya.
***
Taman ini sepi. Mungkin karena hujan yang mulai turun rintik-rintik. Vivi tidak peduli. Sudah lima belas menit ia duduk mematung dikursi taman berwarna putih berkarat dengan tangan memegang sebuah payung kecil yang terbuka diatasnya. Menunggu Devan.
“Maaf, aku telat…”
Nafas Devan memburu. Apa ia berlari? Berlari untuknya? Pertanyaan dari lubuk hati Vivi. Namun urung ia utarakan. Percuma.
“Baru…” Devan melirik jam tangan hitamnya. “Lima belas menit, kan?” katanya kemudian duduk disamping Vivi.
“Ya.” Jawab Vivi, singkat.
Mendadak suasana menyepi. Devan diam. Vivi diam. Mereka diam satu menit. Menit berikutnya, giliran Vivi angkat bicara.
“Van…” katanya, “Apa hubungan kita akan terus seperti ini?” tanyanya. Wajah Devan yang sejak tadi menunduk, tiba-tiba sedikit terangkat dan tersenyum kecil. Entah dari mana asalnya senyum itu, namun tiba-tiba ia bersimpuh di kaki Vivi, lalu memegang tangan Vivi yang dingin karena air hujan. Dan kalut.
“Gak…hubungan kita gak boleh kayak gini terus.” Kata Devan, “Gak mungkin kayak gini terus,Vi…”
Vivi diam saja. Separuh hatinya diam, seperti sudah terbiasa dengan perkataan Devan yang ini namun sebelah hatinya yang lain bergejolak. Ada sebuah firasat.
“Sebenernya, udah lama aku mau ngomong ini sama kamu.” Tiba-tiba tangan Devan merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. “Will you marry me?”
Jantung Vivi runtuh seketika. Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Kesadaran mengajaknya melayang-layang.
“Ba…barusan kamu ngomong apa, Van?” Vivi jadi terbata. Vivi masih terkesiap.
Devan tersenyum. “Maukah kamu jadi istriku?”
***
“Bob…”
Vivi duduk bersimpuh di makam itu. Makam yang sudah luntur. Mungkin karena hujan musim ini begitu bersemangat. Atau mungkin juga karena usianya sudah lama. 3 tahun.
“Maafin aku…”
Mata bulat indah itu memejam. Setetes air mengalir dari selanya. Segera Vivi menghapusnya. Lalu sebuah senyum tergambar diwajahnya. Vivi mengelus nisan itu, lalu menciumnya. Saat tubuhnya berdiri dan berbalik, sosok Bobi berdiri dibelakangnya.
“Tadi gimana hasilnya?”
Mereka duduk di sebuah bangku di sebuah kursi di dekat makam Bobi. Entah mengapa tadi Bobi tidak sanggup melihat Devan dan Vivi bersama di bangku taman. Padahal harusnya ia selalu berada disamping Vivi, meskipun ia bersama Devan.
Vivi langsung mengangkat wajahnya yang penuh tanda tanya. “hasil apa?”
“Konferensi kursi taman. Hehe…” Bobi nyengir sendiri. Ia berusaha tertawa untuk menutupi kegelisahannya.
“Oh…” Vivi menunduk. Sejenak diam menyelimuti waktu. Kemudian, setetes air mata jatuh lagi dari pelupuk mata Vivi. Bobi terkejut.
“Lho, kok malah nangis?”
Segera Bobi mendekat pada Vivi. hampir saja ia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Vivi. Namun segera ia batalkan. Lupa.
“Sori Bob, aku masih bingung.” Jawab Vivi sambil menyeka air matanya.
“Bingung kenapa?” Tanya Bobi
“Bingung, apa yang aku lakukan tadi benar atau gak. Aku takut salah langkah lagi.”
Vivi mendesah. Rasanya ia tercekat. Jantung Bobi ikut berdetak keras. Ia pun kalut.
“Hmm…aku rasa kamu gak akan salah langkah lagi. Kamu udah dewasa, Vi…”
Vivi mengangguk pelan, “Ya, mungkin.”
Mereka terdiam agak lama. Tiba-tiba Bobi ingat pertanyaan awalnya pada Vivi, tentang keputusannya
“Terus, hasilnya apa?” Tanya Bobi. Dalam hatinya, Bobi amat sangat kalut dan takut, kalau-kalau Vivi kembali menyakitinya hari ini.
“Aku… Aku putusin dia.”
Bobi terenyak, “Putusin?!”
“Ya, aku putuskan untuk menolak lamaran dia. Aku gak salah lagi, kan, Bob?” kata Vivi. wajahnya sendu, namun gurat bahagia tersirat di wajahnya yang ayu.
Bobi terdiam. Seperti ada perasaan lega yang bercampur bahagia. Rasanya ia ingin memeluk Vivi, namun ia sadar, ia takkan bisa lagi memeluk gadis cantiknya ini. Akhirnya, kebahagiaannya menggerakkan ujung bibirnya ke atas.
“Oh ya?” kata Bobi, singkat. Kebahagiaan ternyata juga mampu mengunci bibirnya.
Mereka jadi terdiam cukup lama. Terbawa perasaannya masing-masing. Sibuk bercanda dengan hatinya masing-masing.
“Bob…”
Suara Vivi memecah keheningan diantara mereka berdua. Bobi langsung menoleh. Wajah Bobi terlihat masih sangat gembira
“Ya?” jawab Bobi. Bobi terlihat sangat tertarik dengan kata-kata yang akan keluar dari mulut Vivi. Vivi jadi tersipu malu.
“Sampai kapan kamu disini?”
Pertanyaan Vivi membuat Bobi terkejut. Bobi menjadi ingat tugas yang ia emban dari Tuhan. Bobi terdiam dengan pikiran melayang-layang.
“Kok, kaget? Kok, diem?” Tanya Vivi lagi. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Bobi menelan ludah dengan sangat kentara.
“Tadi kamu tanya apa, Vi?”
“Ya ampun, kamu disini sampai kapan, Bobi?” ulang Vivi. wajahnya terlihat geregetan.
“Disini, dimana?”
“Ya disini, Bob, di bumi. Kamu disini selamanya, atau…” ucapan Vivi berhenti pada ketidakinginannya kehilangan Bobi untuk kedua kalinya. Bobi terdiam dan menunduk.
“Gak mungkin, Vi. Aku gak mungkin disini selamanya.”
Jawaban Bobi terasa menghempaskan hati Vivi ke lantai. Vivi terenyak.
“Bukan disini tempatku. Aku hanya bertug…” belum sempat Bobi menyelesaikan ucapannya, tangis Vivi kembali tumpah.
“Kamu mau ninggalin aku lagi, Bob?” Tanya Vivi dengan uraian air mata.
“Maaf Vi, emang itu jalannya.” Jawab Bobi. Kepalanya tetap menunduk. Sangat sulit untuknya mengatakan hal itu pada Vivi. Tugasnya hanya itu, menjaga Vivi hingga benar-benar lepas dari Devan. Tugas yang benar-benar ia minta kepada Tuhan. Dan yang tak Vivi ketahui, bahwa Bobi harus kembali saat Vivi sudah melepaskan Devan. Siap atau tidak.
“Tuhan gak adil, Bob!!”
Vivi berteriak. Memecah diamnya sore yang sangat indah dengan mega menggantung diujung barat. Bobi terkesiap.
“Kamu jangan sekali-kali nyalahin Tuhan, Vi!” Bobi langsung berdiri dengan emosi. “Lihat dirimu dulu, apa selama ini kamu udah bener?”
Vivi makin terisak. Satu sisi ia menyadari kesalahannya. Tapi sisi lainnya, ego memaksanya berkata, ia tak mau sendiri.
“Selama ini Tuhan udah baik sama kamu. Bahkan ia mau mengirimku lagi untuk menjagamu!”
Hati Vivi mencelos, “Lalu kenapa sekarang Tuhan mau ambil kamu lagi?”
“Apa kamu merasa kehilangan?”
Pertanyaan itu terasa menampar hati Vivi. Suara lirih Bobi seakan menusuk relung hatinya yang terdalam. Vivi tertohok saat pertanyaan yang sama muncul di hatinya, benarkah ini cinta, atau hanya sekedar kebutuhan?
“Ya.” Jawab Vivi dengan tercekat.
“Sama Vi. Aku juga kehilangan kamu saat kamu memilih Devan, dulu.” Nafas panjangnya menghela. “Kenapa kamu pilih Devan, Vi, padahal kamu tahu hatimu memilih aku. Apa alasanmu, Vi?”
Seketika lutut Vivi melemas. Rahasia yang ia simpan bertahun-tahun mendadak terbongkar seperti letupan angin panas gunung api. Vivi hanya bisa menunduk pasrah.
“Aku… Aku hanya tahu…, Monik…mencintaimu…lebih dari aku….”
Vivi terbata-bata saat mengutarakan hal itu. Namun dalam hatinya sendiri, ia tidak pernah yakin apakah cintanya tidak lebih dari cinta Monik, sahabatnya dan sahabat Bobi saat SMA itu.
“Kamu tahu, Vi, setelah aku tahu kamu mencintaiku, aku pergi meninggalkan Monik sendirian di taman saat itu juga! Kamu tahu, aku juga tidak peduli dengan air mata monik yang mengucur deras setelah keceplosan menceritakan perasaan hatimu yang sebenarnya padaku! Kamu tahu, bahkan aku juga benar-benar tidak peduli saat Monik berusaha menahanku agar tidak menemuimu padahal ia sangat takut Devan akan membunuhku. Dan kamu harus tahu Vi, penyesalanku yang terdalam bukan karena mengabaikan perasaan Monik, namun karena tidak bisa menemuimu saat itu! Aku mati Vi, aku mati!”
Bobi menghempaskan tubuhnya ke kursi taman. Nafasnya habis, terengah-engah ia menahan emosinya. Mendengar itu, hati Vivi seperti terhempas dari atas gedung tinggi namun tidak ada yang berusaha menyelamatkannya. Hatinya benar-benar hancur seperti tidak berbentuk lagi. Vivi menjadi semakin syok dan hancur saat berhasil merangkai semua kejadian yang merenggut nyawa Bobi pada 3 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan yang terjadi karena Bobi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata yang kemudian selip karena Bobi ingin menyalip sebuah truk hingga akhirnya menabrak truk lain yang berada di depan dan di samping mobilnya. Hati Vivi makin ngilu mengingat tubuh Bobi yang terjepit pintu mobil yang penyok dan tidak dapat diselamatkan karena keterlambatan penanganan. Semua itu terjadi hanya karena Bobi ingin mengejarnya dan menyelamatkannya dari Devan yang ternyata menyakitinya sekarang. Vivi benar-benar hancur sekarang.
“Jangan menangisi semuanya, Vi, sudah terlambat.”
Kata-kata Bobi kembali menusuk hati Vivi yang sudah hancur. Kata ‘terlambat’ terasa menjawab semua permasalahan yang terjadi saat ini. Rasanya Vivi ingin mati saat ini.
“Aku cinta kamu, Bob…”
Akhirnya hanya itu yang mampu Vivi utarakan. Terasa amat sangat terlambat, namun mampu menahan nafas Bobi. Dan seketika….sebuah sayap putih besar keluar dari punggungnya dengan tiba-tiba. Vivi terkejut sekali. Selama ia bersama Bobi, sayap itu tidak pernah keluar bahkan Vivi tak pernah tahu bagaimana sayap itu bisa keluar.
“Vi…aku harus pergi.”
Bobi pindah ke depan Vivi, berjongkok dan menatap Vivi–yang masih menangis–lekat-lekat. Meratapi perpisahan abadi yang harus mereka jalani. Vivi yang belum sempat menyelesaikan keterkejutannya akan kehadiran sayap itu, makin terkejut dengan perkataan Bobi. Perkataan yang sedari awal pasti keluar, namun tak pernah ingin disadari oleh keduanya.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Bobi berdiri. Perlahan tubuhnya mundur, menjauhi Vivi. Spontan Vivi menahan tangannya. Secara mengejutkan, tangan itu tersentuh. Terasa sangat hangat dan dirindukan. Mereka berdua benar-benar terkejut. Mereka berdua benar-benar tahu, hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka sekarang, meskipun mereka amat sangat merindu. Dalam keterkejutannya, Bobi langsung menarik Vivi dan memeluknya erat-erat. Pelukan yang amat mereka rindukan, setelah sekian tahun dan sekian kisah yang mereka alami.
“Maafin aku, Bob…” kata Vivi. Seiring bisikannya yang lirih, perlahan tubuh Bobi menghilang seperti angin. Bau tubuh Bobi menguar di sekeliling tubuh Vivi. Sejuk dan hangat.
***
Tak kan bisa… Tak kan bisa… Aku disisimu sebagai kekasihmu…
Jangan pernah… Jangan pernah… Kau mengharap lebih untuk dapatkanku lagi…