Rabu, 26 Oktober 2011

KISAH NASIB SI ANJING KAMPUNG

AKU LAHIR bersama dua orang saudaraku. Lahir di semak-semak dekat jalan raya. Kami semua jantan berbulu hitam. Waktu masih kecil, yang kami kenal cuma mama. Menyusui dari mama. Berlindung pada mama. Menjadi buntut kedua, ketiga, dan keempat bagi mama. Sampai pada akhirnya, mama ditangkap oleh manusia. Mama menyuruh kami bersembunyi. Kami menurut saja, tetapi semenjak itu mama tidak pernah kembali.
“Ia sudah disajikan di atas piring. Menjadi RW.”
Banyak anjing yang sudah mengatakan hal yang sama. Seputar daging di atas piring. Seputar RW. Aku masih tidak dapat membayangkannya. Apakah itu berarti mama sudah mati? Mama menjadi makanan manusia?
“Anak-anak bodoh, suatu hari nanti kalian akan tahu.”
Pertanyaan-pertanyaan mengenai mama sudah lama tidak menyinggahiku yang kini hidup sendirian di trotoar. Mungkin tidak akan pernah lagi, lagipula buat apa? Toh, aku sudah lupa dengan wajah mama. Yang penting saat ini adalah, aku bisa makan dan minum—mengorek tempat sampah di kompleks-kompleks perumahan atau memungut tulang-tulang ayam yang tidak sengaja terbuang ke lantai warung. Kadang berebut dengan anjing lain, berkelahi hingga salah satu dari kami babak belur. Terluka. Atau pada akhirnya ditendang oleh manusia. Hidup itu keras!
Kakak pertamaku sudah mati, karena dipatuk ular berbisa di sawah. Aku sempat mengunjungi mayatnya. Banyak belatung. Belatung yang kucicipi sedikit. Hmm… renyah. Walaupun tercium jelas bau busuk yang menggerayang. Tidak apa-apa lah!

Kakak keduaku sempat (berniat) datang menjenguk. Tetapi waktu itu—waktu dia menyeberang jalan—hanya tinggal beberapa langkah jaraknya dariku—sebuah truk meluncur, melindasnya dan CROOOT! Hancurlah separuh badannya. Isi perutnya terburai. Nafasnya masih kudengar sedikit, tetapi ia sudah tidak sanggup menggonggong. Aku hanya bisa meraung-raung mengitari tubuhnya. Beberapa manusia terdengar berceloteh ricuh, di antaranya terdengar suara perempuan menjerit. Merasa jijik dengan kakakku yang sebentar lagi akan menjadi mayat.
“Dasar anjing, nggak punya otak!”
“Najis banget sih tuh anjing! Iiih, jijik aku!”
“Apa nggak ada yang bisa bersihin mayatnya dari jalanan?!”
“Oooh, Fuck the dog off!”
“Udah tau ada truk, ngapain nyebrang? Ayam aja ngerti!”

Yah, beginilah hidup menjadi anjing kampung. Serba rawan. Juga tidak ada yang peduli. Seakan semua tuli.
Malangnya nasib anjing kampung.
Guk! Guk! Guk!
***

Aku melintasi sebuah kompleks perumahan kecil. Para manusia—mungkin warga sekitar—kelihatan sedang asyik bermain bola, sementara aku mengorek sampah dari satu rumah ke rumah lainnya.
“GRRR!” seekor rottweiler tiba-tiba menghantam perutku dengan kepalanya yang bulat. “Siapa suruh kamu makan di sini?! Anjing jelek!”

Huh, lagaknya seperti anjing terhebat saja! Dasar anjing ras, hidup enak, sok jago lagi! Paling-paling badan gede cuma gara-gara dogfud!
“Grrr! Terserah aku mau makan di mana! Nantang berantem kamu ya?”
“Grrr, jelas-jelas kamu yang nantang! Anjing Kampung!”
Nafasku dan nafasnya menderu seperti knalpot motor butut.
“MATI LU ANJING BEGO!”
Kucabik matanya, kucakar hidungnya, dan kugigit punggungnya. Ia membalas, membantingku hingga aku tersungkur di tanah. Perutku berdarah. Ah, luka biasa! Aku bangkit lagi. Kugigit lagi punggungnya, perutnya, wajahnya, hingga ia berdarah di mana-mana! Aku ini sudah pengalaman berkelahi berpuluh-puluh kali. Siberian Husky saja terkaing-kaing meninggalkanku! Apalagi Rottweiler jelek macam dia!
Ada seekor Golden Retriever tampan yang hanya berdiri memandang pertarungan kami sambil menggonggong memanggil seseorang. Entah siapa yang dipanggilnya, mungkin tuannya.

“SINYOOO! IVES BHERANTEM SAMA ANJHING KAMPUNG! SINYOOO! CEPETAN KE SINI!” Seorang gadis cilik memanggil-manggil dari balik pagar rumah. Suaranya parau bercampur logat Jawa yang kental. Kakinya yang gemuk gemetaran sambil berteriak-teriak tidak jelas. “SINYOOOOO!”
“Iya, iya, bhentar!” Seorang bapak-bapak—ah, bukan—seorang remaja berbadan bongsor keluar melerai kami berdua. Ia menimpukku dengan sendal dan batu.
Cih, pengganggu!
Baiklah-baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, sekali lagi kita bertemu, anjingmu akan mati! Pasti mati!
“Ives, Alvin, masuk sana!” Orang itu menyuruh kedua anjingnya masuk.
Halah, ternyata kedua anjing itu penurut sekali. Dasar bego! Kugonggongi mereka, kemudian aku lari. Guk! Guk! Guk!
“Ives ngghak apa-apa kan, Nyo?”
“Matanya luka.”
***
Trotoar. Trotoar. Aku menapak sendirian lagi. Tidak ada pertarungan. Tidak ada makanan. Tidak ada anjing betina untuk dikawini. Aku hanya bisa menatap kosong pada teman-temanku yang sedang kawin di tengah jalan—atau di tengah pantai.

Aku duduk meliuk di atas pasir putih. Kuamati tingkah laku tiap manusia di sana. Kuamati anak-anak pantai berkulit legam, berjalan telanjang dada sambil menjinjing papan surf, mungkin di antaranya ada yang menjadi gigolo. Kulihat perempuan-perempuan manis berkulit cokelat, berperut cekung berdada busung, mungkin di antara mereka ada yang menjadi wanita peliharaan. Wah, kalau kupikir-pikir, manusia dan anjing tidak jauh beda. Sama-sama suka dipelihara. Yang penting bisa makan dan minum. Guk! Guk! Guk!
“Halo, siapa kamu? Kamu anjing juga ya?”
“Heh? Siapa kamu?”
“Loh, kok balik tanya.”

Aku membuka mataku perlahan. Eergh, rasa kantuk di siang hari memang sulit diobati. Biasanya kurelakan saja mataku mengatup, kemudian bangun dengan perut lapar di malam hari. Tapi kali ini, sesuatu menambat mataku supaya tetap terbuka.
“Main yuk!” ajaknya.
“Ma… main? De… denganku?”
Mataku terpana, melihat seekor anjing betina yang begitu cantik. Shih Tzu dengan bulu cokelat panjang. Matanya pun cokelat berbinar-binar. Aduhai, ia seperti seorang putri. Tubuhnya mungil namun berisi. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil yang imut. Terkadang ketika berlari, ia hampir-hampir terpeleset. Terkadang juga ia sengaja menjatuhkan diri, merasai pasir yang empuk, seperti bantal di rumah, katanya.
“Hei, memangnya majikan kamu ke mana?”
“Nggak tahu, majikanku hilang.”
“Lantas, kamu kok tenang-tenang aja?”
“Ya, karena aku suka pantai. Lebih baik aku nggak pulang ke rumah.”
“Jangan begitu! Hidup di rumah itu jauh lebih enak. Kalau di sini bisa-bisa seharian kamu enggak makan. Malah ngorek sampah.”
“Ngorek sampah? Waktu kecil aku juga sering ngorek sampah di dapur, tapi selalu dimarahin. Kalau kamu?”
“Hmm, setiap hari. Setiap hari aku makan sampah.”
“Wah, nggak sehat loh!”

Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, sambil melintasi tubuh-tubuh berkulit pucat yang berjemur di atas pasir putih. Ia bercerita mengenai dirinya yang dirawat bagai seorang putri raja. Banyak hal asing yang disebutkannya—seperti spa, manikur, pedikur, dan masih banyak lagi. Aku tidak dapat mengingat semuanya. Hanya saja yang kutahu, ia melakukan semua itu demi kecantikan. Kecantikan yang memang tampak dari dirinya—dari dalam maupun luar.
“Sebenarnya itu juga bukan mauku.”
“Hmm, itu keinginan majikanmu?”
“Iya.”
Tak pernah kutemui anjing ras secantik dan seramah dia. Apalagi anjing kampung! Mana ada yang mau menemaniku ngobrol seperti sekarang ini. Ada mungkin, tapi hanya sebatas obrolan mengenai menstruasinya anjing milik si A atau si B. Huh!

Guk! Guk! Guk!
Kami berdua terus berlari, berlari melampaui kecepatan awan-awan mungil di langit dan tiba-tiba saja… GUBRAAAK! Papan surf menghantam kepalaku. Aaah, Anjing, sakit sekali! Guk! Guk! Guk!
“Loh, ke mana dia?”
Aku menoleh ke segala arah. Yang kulihat hanya pantai yang kian menghitam dan pedagang-pedagang menggulung tikar. Sementara suara perutku sudah menyaingi kokok ayam pagi hari. Lapar! Lapar! Lapar!

Aku berjalan sendirian. Terhuyung di pinggir pantai. Lelah. Lemas. Lapar. Kali ini tanpa seekor Shih Tzu yang menemani. Memang di dunia ini mustahil untuk menemukan anjing yang baik sekaligus cantik.
Terbukti, hanya ada di dalam mimpi.

Keempat kakiku menapaki relung-relung pasir putih berselimut hitam malam. Tak sekalipun mulutku membuka. Hanya diam melangkahi para manusia yang sedang bercinta meniru gaya anjing. Siapa yang sebenarnya binatang di sini?
Guk! Guk! Guk!
Aah! Aah! Aah!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar