Sabtu, 29 Oktober 2011

SEBUAH PRESEPSI DAN ASUMSI

Semua orang hidup dgn asumsi dn persepsinya masing-masing.Menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar dan paling baik. Entah dalam tatanan masyarakat ataupun berkeTuhanan.
Begitu pula dengan diriku. Aku hidup juga dengan asumsi dan persepsiku. Walupun kadang sering merasa, tapi aku selalu mencoba untuk menekan rasa dan perasaan bahwa dirikulah yang paling baik dn paling benar terhadap orang2 disekitarku. Aku mencoba untuk tidak terlalu ujub (membanggakan diri), karena itu merupakan salah satu penyakit hati yang juga dapat melukai hati orang lain.
Al- Qur’an dan As Sunnah, adalah dua warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah setelah beliau wafat. Yang barangsiapa hanya berpegang teguh kepada keduanya, maka kebahagiaan yang kekallah yang akan ia dapatkan. Dua wasiat yang jauh lebih dari cukup yang membahas tentang semua hal dalam hidup ini. Mulai dari tauhid, keimanan, ketakwaan, kebiasaan sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tentang ilmu pengetahuan, alam, sosial, teknologi, psikologi. Hubungan horisontal dengan masyarkat,hingga vertikal dengan tuhannya. Tentang adab, perilaku, sopan santun, twadhu’, zuhud, amar ma’ruf nahi munkar, maksiat, halal&haram. Tentang jihad, dakwah, ibadah, dn juga tentang kabar-kabar adzab, rahmat, ampunan, surga dan neraka. Dan yang terakhir tentang hati.
Inilah asumsi dan persepsiku sendiri tentang diriku. Yang mana bahwa diriku hanyalah sebuah hati yangdidalamnya terdapat akal, nurani, dan hawa nafsu, yang dimasukkan kedalam suatu wadah yang dinamakan Tubuh beserta perangkatnya.Lalu diturunkanlah aku kedunia untuk menjalani qadha dan qadarNya.
Aumsi ini aku ambil dari sabda Rasulullah ;
“…Bahwa bila ia baik, maka baiklah seluruhnya. Tapi bila ia buruk, maka buruklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati. ”  (HR. Muslim)
Banyak sekali lumpur dan kotoran yang melekat pada hatiku. Setiap kali aku mencoba membersihkannya dengan cahaya Al Qur’an dan as sunnah, selalu saja setan datang menggoda. Membujuk penuh rayu untuk mengotorinya lagi dengan lumpur hitam yang jauh lebih busuk dan menyengat. Azab berbalut kenikmatan selalu datang  menggoda silih berganti. Seperti kata seorang penyair ;
” Kubuka jendela pagi, dan dosa pun menghampiri. Bersama berjuta wajah kuarungi mimpi hari. Halalkan segala cara untuk hidup ini. Suara jerit hati kuingkari. Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati. Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti.. ” (Opick)
Atghfirullah..
Ya Allah, aku mohon ampun atas dosa yang selama ini aku perbuat. Entah sadar atau tidak. Baik yang nampak maupun samar,  baik yang kecil maupun yang besar. Dosa itu semakin hari semakin menggunung. Mampukah aku menanggungnya, mampukah aku membawanya, mampukah aku memikulya kelak di hari pengadilanMu Yang Maha Adil, bila masa itu telah tiba? Mampukah aku?!!
Innaalillah..  Ihdinas shiraththal mustaqim Ya Rabb ..,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar