Selasa, 04 Oktober 2011

MEMAHAMI SEBUAH HAKIKAT SECARA SEDERHANA

Rutinitas kehidupan modern yang menyeret manusia dari ruang yang satu ke ruang lainnya dengan begitu cepat serta timbunan-timbunan informasi yang diterima nyaris tanpa henti-hentinya membuat manusia modern berperan sedemikian rupa di dalam setiap ruang yang dilampauinya.

Ketika dia, manusia, memainkan peran-peran itu, mungkin dia berhasil mengadopsinya ke dalam setiap ruang.Tapi bukan tidak mungkin pula dia terjebak di dalamnya sehingga peran itu tidak dapat dia lepaskan begitu saja. Bahkan kemudian menjadi bagian dari dirinya yang sama sekali tidak dikenalinya. Dan pada titik balik itulah dia kemudian mencoba menyadari kembali keberadaan dirinya sebagai manusia.

Dia mencoba memahami keberadaan dirinya melalui soal-soal yang sederhana yang mungkin luput dari perhatiannya, tetapi kemudian untuk memahami persoalan yang sederhana itu pun dia merasa kesederhanaan itu adalah sebuah kerumitan karena dia merasa bahwa untuk memahami kesederhanaan itu, dia harus meletakkan dirinya sedemikian rupa, termasuk harga dirinya, jauh di bawah nilai yang mungkin pernah dicapainya.

Bahkan menurutnya,untuk memahami kesederhanaan itu, dia merasa telah membodohi dirinya sedemikian rupa.Dengan kata lain,dia merasa telah memasuki sebuah ruang yang “tak bernilai”. Bukan sebuah ruang yang “tak ternilai”.

Menghadapi tawar-menawar nilai itu,manusia kemudian mencoba memasuki ruangruang spiritualitas, bukan sebagai suatu kesadaran, melainkan sebuah “pelarian” yang membuatnya tidak jarang,tanpa disadarinya pula, semakin jauh dari realitas sosialnya di mana dirinya sebenarnya harus berada.

Ia pun lalu mencoba menerjemahkan dirinya menjadi seekor burung merpati yang dapat mengabarkan kedamaian bagi dirinya, tetapi ia telah meneguk anggur lebih dari secawan sehingga membuatnya tersungkur tak berdaya karena mabuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar